Label

Tampilkan postingan dengan label knowledge. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label knowledge. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Mei 2014

Kerikil Tajam Dilintasan Pejuang Estafet Bangsa Dalam Menyuarakan Aspirasi Nasionalisme


 (Rahma Nur Auliasari)

“Apabila seseorang ingin menjajah suatu bangsa maka jajahlah komponen terpenting dari suatu bangsa tersebut, yakni generasi muda. Gunakanlah hal-hal yang dapat merusak sifat moralitas dari kaum muda tersebut.”

Pepatah tersebut menunjukan betapa pentingnya generasi muda dari suatu bangsa. Ibarat permainan estafet, generasi muda adalah pelari kedua yang siap berjuang membawa tongkat estafet pembangunan dari pelari pertama yang perlahan akan mundur dari jalur pertandingan. Pelari pertama hanya bisa memperjuangkan untuk memberikan tongkat estafet perjuangan dan berharap agar pelari-pelari selanjutnya, yakni generasi muda dapat membawa tongkat estafet menuju garis final yang diidam-idamkan oleh seluruh masyarakat Indonesia. Di dalam masyarakat, pemuda merupakan satu identitas yang potensial. Kedudukannya yang strategis sebagai penerus cita – cita perjuangan bangsa dan sumber insani bagi pembangunan bangsanya.
Dewasa ini sedang hangat-hangatnya pemberitaan mengenai kekerasan sekaligus pelecehan seksual pada anak dibawah umur. Kejadian tersebut adalah salah satu kejadian yang baru muncul kepermukaan dan menjadi buming seantero Indonesia. Fenomena tersebut setidaknya menjadi cambukan hebat terhadap para orangtua untuk selalu mengawasi setiap sisi keseharian mereka. Mengapa? Karena mereka adalah salah satu generasi penerus bangsa. Walaupun waktunya terhitung masih lama. Namun akan ada waktu dimana merekalah yang akan memangku dan mengemudikan roda pemerintahan Indonesia. Alangkah lucunya apabila para generasi penerus bangsa tersebut memiliki akhlak dan mental yang bobrok jauh sebelum mereka mengerti tentang Negara ini.

Generasi Muda
Berbicara mengenai pejuang estafet bangsa, yah bisa dikatakan pejuang estafet bangsa adalah generasi muda, apa yang dimaksud dengan generasi muda? Generasi muda adalah kelompok, golongan, angkatan, kaum muda yang hidup dalam jangka waktu tertentu, dimana mereka memiliki tugas untuk melanjutkan pembangunan bangsanya sebagaimana tugas-tugas para angkatan yang hidup sebelum mereka[1].
Pada sensus penduduk tahun 2010,tercatat remaja di Indonesia mencapai 147.338.075 jiwa atau 18,5% dari seluruh penduduk Indonesia[2]. Bisakah Anda bayangkan, betapa banyaknya remaja di Indonesia. Remaja-remaja atau yang bisa kita sebut sebagai generasi muda tersebut adalah cikal bakal yang akan menggantikan mereka yang tengah duduk dikursi kekuasaan. Generasi muda inilah yang akan mengharumkan nama bangsa Indonesia ke kanca internasional dari berbagai macam bidang yang berbau internasional.
Kaum muda sangatlah dekat dengan perubahan. Pengaruh-pengaruh yang bersifat positif ataupun negatif sangatlah mudah untuk masuk dan mengubah pola pikiran suatu kaum muda. Kaum muda yang memiliki usia rentang 16-25 tahun, secara biologis pada usia-usia tersebut mereka sedang mengalami masa-masa pencarian jati diri. Semua yang mereka lakukan selalu benar dan tak pernah salah. Namun, pada masa-masa itulah gelora nasionalismenya tumbuh dengan subur. Terbukti dari maraknya mahasiswa yang berpartisipasi dalam demonstrasi masal.
Demokrasi
Indonesia. Indonesia adalah Negara yang berlabelkan demokrasi. Abraham Lycon mengemukakan suatu teori yang berbunyi, “dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat”. Sederhana memang kedengarannya. Namun jika kita telaah kembali, teori yang dikemukakan oleh beliau tersebut mengandung banyak manfaat bila kita terapkan dalam kehidupan berbangasa dan bernegara. Teori tersebut menjelaskan bahwa rakyat memegang kuasa penuh atas majunya suatu pemerintahan.
Namun, saat ini teori tersebut berjalan tidak sebagaimana mestinya. Banyak para anggota partai berlomba-lomba mencalonkan diri untuk menjadi wakil rakyat  namun, saat mereka telah terpilih, rakyat seolah hanya sebagai embel-embel untuk mengumbar janji agar mereka bisa menguasai negeri ini. Kehidupan rakyat yang berada diambang garis kemiskinan dirasa tidak sedikit pun mencuri perhatian mereka yang tengah duduk dibangku kekuasaan untuk meperbaiki secuil saja derajat hidup mereka.
Lalu, kemana jalanya teori demokrasi saat ini? Masih adakah mereka yang mau menegakan unsur-unsur demokrasi tersebut.
Apa yang dimaksud budaya demokrasi? Budaya demokrasi adalah pola-pola sikap dan orientasi politik yang bersumber dari nilai-nilai dasar demokrasi yang seharusnya dimiliki oleh setiap warga dari sistem politik demokrasi. Adapun nilai-nilai dasar demokrasi yakni kemerdekaan, persamaan dan solidaritas.
2014. Menurut penanggalan bintang tahun 2104 adalah tahun kuda emas. Namun, pada penanggalan politik, tahun 2014 adalah tahun dimana Indonesia akan menemukan wajah-wajah baru yang akan memimpin negeri ini. Yah, pada tahun ini Indonesia akan melakukan pemilihan umum, mengingat tahun ini masa jabatan presiden-dan wakil presiden akan usai terhitung 5 tahun dari tahun 2009.
Sebanyak 15 partai politik yang terdiri 12 partai nasional dan 3 partai lokal Aceh maju mencalonkan anggotanya dalam pemilihan anggota legislatif pada 9 Maret 2014 lalu. Birunya kelingking menjadi tanda bahwa kita sebagai warga Negara Indonesia telah berpartisipasi dalam menegakan pemerintah yang bersih, jujur dan adil. Transparanisasi dan keikhlasan sangat dibutuhkan dalam kegiatan pesta demokrasi kali ini. Keadaan dibawah tekanan untuk lebih berpihak kesuatu partai karena partai tersebut memberikan iming-iming janji atau biasa disebut politik uang, diharapkan tidak terjadi secara berkelanjutan dari tahun ketahun.
Peran Kaum Muda dalam Kegiatan Pemilihan Umum
Seperti yang telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya, para kaum muda mempunyai rentang usia 16-25 tahun, secara biologis pada usia ini mereka tengah mengalami fase-fase pencarian jati diri. Gelora nasionalisme yang tumbuh bak jamur tumbuh dikala musim hujan.
Pemikiran-pemikiran matang kaum muda tidak jarang membuahkan kesimpulan yang preseptif bagi permasalah yang tengah terjadi di negeri ini. Selain jiwanya yang muda, kaum muda tersebut pun memiliki pemikiran yang muda. Pemikiran muda disini merupakan pemikiran yang bersifat aktual, pemikiran yang diambil dari berbagai sudut pandang yang menjadikan suatu permasalah tidak salah dalam satu pandangan. Karena pada hakikatnya, kaum muda hanya bisa memikirkan, memandang suatu permasalahan berdasarkan yang mereka ketahui dan pahami.
Saat ini, disetiap pelosok daerah di seluruh bagian Negara Indonesia sedang hangat-hangatnya membicarakan mengenai kegiatan pemilu yang akan diselenggarakan dalam  dua kali putaran. Pada tanggal 9 maret kemarin ialah pemilihan umum anggota DPRD dan DPR RI, rakyat Indonesia telah memilih calon ketua dan wakil ketua anggota legislatif. Pada tahun ini ada sekitar 175 juta penduduk dan 23 juta remaja  atau kaum muda di Indonesia yang akan mengikuti pemilihan umum[3]. Walaupun sebagian dari kaum muda tersebut bisa dikatakan sebagai pemula, namun keikutsertaanya dalam mengikuti jalannya pesta demokrasi ini sangatlah dibutuhkan. Jika para remaja tersebut lebih memilih golput maka hak suara mereka akan terbuang dengan percuma. Itu artinya mereka sama sekali tidak berantusias dalam mewujudkan Negara Indonesia makmur dibawah pimpinan mereka yang memang benar-benar memiliki jiwa pemimpin.
Satu Celah Diantara Pemikiran Kaum Muda
Secara logika, yang namanya kaum muda adalah mereka yang mempunyai jiwa muda. Seseorang yang telah lanjut usia pun apabila mereka menganggap jiwa mereka muda, mereka bisa dikatakan muda. Yah muda pemikiran tapi bukan muda raga. Namun, saat ini pokok bahasan yang sedang dikupas ialah kaum muda yang dilihat dari sisi biologis dan dari jiwanya.
Pernahkah terbayangkan bagaimana seorang kaum muda sangat mudah dipengaruhi? Saat ini banyak kaum muda menganggap dunia merekalah yang paling menyenangkan. Mereka bisa melakukan berbagai macam kegiatan yang mereka minati tanpa pikir panjang sebab dan akibatnya. Hampir semua kaum muda dizaman saat ini menganggap bahwa sekolah hanya sebagai formalitas belaka. “Toh ujung-ujungnya juga lulus”, pikir mereka. Bagaimana mau maju bangsa ini. Jika kaum muda saja sulit untuk dididik. Salah satu faktor yang merusak kaum muda saat ini ialah merebaknya sikap apatis dan sifat acuh tak acuh terhadap keadaan Negara. Bagaimana bisa, setiap jam, setiap menit, bahkan setiap detik pemikiran mereka dicekoki oleh perubahan teknologi yang semakin hari semakin pesat. Sepasang bola mata yang mereka miliki dipergunakan secara sia-sia. Sepasang bola mata mereka dipasangkan ditempat senyaman mungkin di depan layar putih transparant dengan koneksi internet didalamnya. Sepasang bola mata mereka tidak dipergunakan untuk melihat sedetik saja perubahan yang terjadi di Negara ini.
Jika kita kaitkan dengan kegiatan pemilihan umum kemarin, berapa persenkah angka keikutsertaan para kaum muda? Adakah mereka yang memang benar-benar memilih demi kepentingan pemerintahan bangsa ini? Entahlah.
Pemerintah sangat mengapresiasikan mereka, para kaum muda dalam partisipasinya menyumbangkan satu persatu suara kepemimpinan bagi negeri ini. Memang, memilih pemimpin yang memegang teguh janji sangatlah sulit. Bagai mencari jarum di tumpukan jerami. Namun, walaupun begitu setidaknya usaha untuk mencari telah ada. Tinggal lagi mereka, para calon yang terpilih mengusahakan pewujudan janji-janji besar mereka terhadap rakyat.
Permasalahan Kaum Muda pada Kegiatan Pemilu
Pernahkah Anda berpikiran bahwa seorang kaum muda tidak hanya berperan sebagai pencoblos pada pemilu? Yah, kaum muda bisa saja menjadi peserta pemilu. Karena dilihat dari segi potensi dan pemikirannya kaum muda memiliki pemikiran yang luas, pemikiran yang bisa saja memperbaiki tatanan pemerintahan republik kita ini.
Disisi lain permasalahan besar muncul. Ternyata majunya caleg-caleg muda ini, sebagian besar hanya sebagai trik penggelembungan suara. Bagaimana bisa? Menurut artikel yang saya baca di media sosial, mereka mengatakan bahwa menurut data daftar pemilih tetap, ada sekitar 20-30 persen jumlah pemilih pemula dari total daftar pemilih tetap. Dalam konteks pemilih, sorotan terhadap pemilih pemula menjadi perbincangan karena secara kuantitas jumlahnya cukup signifikan[4]. Data tersebut membuat sejumlah parlemen memutar otak untuk tetap dapat mendapatkan suara terbanyak pada pemilu kali ini. Mereka para anggota perlemen mengusung anggota-anggotanya yang berusia muda sebagai caleg-caleg muda. Strategi ini tentu saja untuk menarik dukungan dari basis pemilih pemula.
Namun, apakah dengan cara tersebut para kaum muda diluaran sana akan memberikan suaranya bagi caleg-caleg muda yang dicalonkan oleh partainya? Belum tentu. Seorang pemilih, atau pemilih pemula tidak serta merta memilih calon legislatif yang memiliki usia yang dirasa sebanding dengan dirinya. Seharusnya, konsep yang dimatangkan tidak hanya dari segi usia. Akan lebih bagus apabila para calon legislatif muda tersebut membawa gagasan-gagasan baru terkait tentang apa-apa yang akan mereka perjuangkan untuk kaum muda. Setidaknya embel-embel tersebut sedikit bisa membantu.
Politik kaum muda bukanlah replikasi politik kaum tua yang sudah usang dimakan zaman. Politik kaum muda juga sebaiknya tidak ditempatkan dalam posisi yang aji mumpung, hanya karena memenuhi syarat untuk mengajukan diri sebagai caleg atau hanya karena punya relasi yang kuat dengan elite partai.
Dan hadirnya politik kaum muda setidaknya memberikan sedikit hawa segar bagi deretan calon legislatif. Setidaknya, mereka memberikan atmosfir baru dalam menarik perhatian semua pemilih yang bosan terhadap muka-muka lama. Bukanya sebagai sarana penggelembungan suara terhadap partai yang mengusung mereka. Sangat disayangkan apabila asset-aset Negara seperti kaum muda yang selayaknya memiliki potensi sebagai penampung aspirasi masyarakat dalam menyuarakan budaya demokrasi, malah tidak bisa bersikap banyak. Karena, keberadaannya sangat ditentukan oleh peran kaum tua.
Kesimpulan
Indonesia sebagai Negara berkembang yang mempunyai sumber daya alam yang melimpah, diharapkan agar bisa dimanfaatkan untuk memfasilitasi serta memakmurkan rakyatnya agar terciptalah sumber daya manusia yang berkualitas, berbasis kompeten dan ber-mindset nasionalisme. Dengan meningkatnya kualitas sumber daya manusia, maka tidak akan ada lagi ‘orang besar memasang perangkap di rumah orang kecil’. Tidak ada lagi pemikiran kaum muda yang dikendalikan oleh kaum-kaum besar.
Jika Negara diibaratkan sebuah apel yang dimakan ulat, maka janganlah kita membuang semua bagian apel tersebut. Kita bisa hanya membuang bagian apel yang dimakan oleh ulat tersebut. Karena pada hakikatnya, seburuk apapun perilaku kita maka kita tidak perlu membunuh diri kita. Begitupun dengan Negara ini, seburuk apapun pemimpin, seburuk apapun perilaku yang telah mereka kerjakan terhadap Negara ini, kita tidak perlu bertindak kejam, karena akan ada waktu dimana kekukuasaan mereka akan usai. Akan ada waktu dimana demokrasi benar-benar dirasakan oleh semua level masyarakat. Tinggal lagi kita sebagai generasi penerus bangsa, untuk mempersiapkan langkah-langkah kemajuan yang akan kita bawa dalam memimpin Negara ini. Sehingga Indonesia berjalan di koridor ketatanegaraan yang diidam-idamkan oleh seluruh rakyat ibu pertiwi.


Senin, 07 Januari 2013

KOKOLOGI


Teman, tadi siang gue mampir ke perpustakaan sekolah. gue sengaja mampir kesana coz gue kangen nih ama buku-buku yang ada disana. coba gue punya perpustakaan pribadi, bakal gue isi ama buku novel koleksi gue deh !! -aminn-

oh yah, mau tau gak  penemuan buku yang unik yang gue temui disana..

yapz.. temen gue sih tau  !! -KOKOLOGI-

nih gue post-in, apa sih KOKOLOGI itu...

Kokologi adalah sebuah permainan dari Jepang sobat. Tujuannya hanya untuk mengetahui sifat, karakter dan kepribadian kita kok... eits jangan dianggap bener yach.. karena itu semua cuma permainan doank kok.. yah namanya juga permainan ada bener ada juga enggak...

nama Kokologi sendiri gabungan dari 2 bahasa sobat, KOKORO = PIKIRAN (Jepang) sedangkan LOGIA = ILMU (Yunani)

cara memainkannya mudah kok...

1. akan disediakan teks dimana kamu harus berhayal

2. akan disediakannya juga opsi-opsi yang nantinya akan kamu plih salah satunya

3. setelah itu, lihat deh makna yang terkandung dari opsi yang kamu pilih tadi...

EXP. Menjemur baju

mungkin nampak sedikit kuno sekarang. Tapi tidak terlalu lama di masa lalu ketika menjemur baju di luar rumah adalah satu-satunya cara mengeringkan baju. Sekarang kita dilengkapi dengan pengering otomatis dari mesin cuci. Dulu biasanya Anda yang harus memperhatikan cuaca ketika sedang mencuci atau harus menghabiskan waktu mengeringkan celana Jeans yang basah.Anda berada pada jaman ketika segalanya dicuci dengan tangan dan digantung sampai kering. Baju-baju kotor mulai menumpuk. Anda benar-benar harus mencucinya hari ini. Ketika melihat ke angkasa Anda melawan awan gelap pertanda akan hujan. Apa yang terlintas di pikiran?

1.”Oh tidak, kau pasti bercanda! Maksudmu aku harus menunggu sampai besok? Apa yang akan aku pakai?“

2.”Tunggu saja sebentar dan lihat apakah cuaca akan cerah“

3.”Yah, aku rasa tidak harus mencuci hari ini“

4.”Aku akan tetap mencuci biarpun hujan atau tidak“

ANSWERRS

Rahasia dibalik jawaban Anda :

Ketika cuaca buruk yang tak terduga ditambahkan ke dalam tugas-tugas rumah tangga yang membosankan, Anda mendapatkan contoh nyata stress kecil yang dihadapi dalam hidup sehari-hari. Jawaban Anda terhadap cucian menunjukkan ukuran stress yang dirasakan dalam kehidupan.

Pertama

“Oh tidak, kau pasti bercanda! Maksudmu aku harus menunggu sampai besok? Apa yang akan aku pakai?“

Tingkat stress : 80 %. Anda membiarkan segala hal-hal kecil yang buruk mempengaruhi Anda. Sekarang stress telah menumpuk tinggi sehingga gangguan terkecil saja dapat membuat Anda kesal seharian. Sudah saatnya Anda beristirahat dan santai sebelum hal itu mempengaruhi kesehatan.

Kedua

“Tunggu saja sebentar dan lihat apakah cuaca akan cerah“

Tingkat stress : 50 %. Anda tidak dipenuhi stress dalam hidup. Anda tetap dapat tenang ketika segala sesuatu tidak berjalan seperti yang direncanakan. Teruslah berusaha menyelesaikan masalah yang dapat Anda pecahkan ketika muncul. Anda akan baik-baik saja. Ingat, tidak semua stress itu buruk. Biarkan stress dalam hidup memotivasi Anda.

Ketiga

“Yah, aku rasa tidak harus mencuci hari ini“

Tingkat stress : hampir 0 %. Anda tidak membiarkan masalah kecil mengganggu dan tidak punya alasan untuk kuatir. Anda mungkin sudah yakin dengan filosofi tenang. Anda tidak dapat menghentikan hujan dengan menguatirkannya.

Keempat

“Aku akan tetap mencuci biarpun hujan atau tidak“

Tingkat stress : hampir 100 %. Anda merasakan stress yang tinggi dalam hidup sehingga mengabaikan kenyataan dan berusaha mencapai hal yang mustahil. Ketika gagal, Anda akhirnya berhadapan dengan masalah yang lebih besar dan lebih banyak stress dari sebelumnya. Jika meluangkan waktu untuk santai dan memikirkan semuanya, Anda akan melihat berapa banyak usaha yang terbuang. Jangan terlalu cepat dan jangan terlalu tegang. Memakai kaos kaki yang sama sehari lagi tidak akan membunuh Anda.

EXP. Kebijakan pengembalian

Ketika kamu berniat menembak seseorang dan membawakan kado istimewa untuknya, lalu saat kamu mengugkapkan cinta , ia bekata ' Maaf, aku tidak dapat menerimanya'

lalu apa yang anda lakukan dengan kado tesebut setelah patah hati ?

1. menggunakan sendiri

2. memberikan kepada orang lain

3. membuangnya

4.mengirim hadia kepada orang yang menolaknya

ANSWERRS

1. anda pandai menahan hawa nafsu dan menanggapi pesoalan dgn kepala dingin

2. anda berusaha membuat sesuatu yang burk agar selalu telihat lebih baik

3. anda susah lepas dari masa lalu

4. anda tidak mengindahkan seseorang yang lain untuk mendekati anda

Sabtu, 22 September 2012

Ragam Karya Ilmiah


11. Artikel
a. Pengertian Artikel
Artikel ilmiah adalah karya tulis yang dirancang untuk dimuat dalam jurnal atau buku kumpulan artikel yang ditulis dengan tata cara ilmiah dan mengikuti pedoman atau konvensi ilmiah yang telah disepakati. Artikel yang ditulis oleh mahasiswa, dosen, pustakawan, peneliti, dan penulis lainnya dapat diangkat dari hasil pemikiran dan kajian pustaka, atau hasil pengembangan proyek. Dari segi sistematika penulisan dan isinya, artikel dapat dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu artikel hasil penelitian dan artikel nonpenelitian. Setiap mahasiswa penulis skripsi dan tesis sangat dianjurkan menuliskan kembali karyanya dalam bentuk artikel untuk diterbitkan dalam jurnal.
b. Sistematika Penulisan Artikel
Setiap Perguruan Tinggi memiliki sistematika penulisan jurnal, sesuai selingkung jurnal yang ditetapkan. Secara garis besar, artikel dalam sebuah jurnal ini perlu ditulis dengan sistematika yang berbeda agar para pembaca jurnal dapat segera mengenali jenis artikel yang dibacanya secara cepat dari sistematikanya, apakah artikel itu merupakan hasil penelitian atau hasil pemikiran konseptual. Yang paling membedakan keduanya bahwa dalam artikel hasil penelitian harus ada bagian yang diberi subjudul “metode” dan “hasil”. Sedangkan dalam artikel konseptual tidak ada bagian yang diberi subjudul seperti itu. Artikel konseptual biasanya terdiri dari beberapa unsur pokok, yaitu judul, nama penulis, abstrak dan kata kunci, pendahuluan, bagian inti atau pembahasan, penutup, dan daftar rujukan. Uraian singkat tentang unsur-unsur tersebut disampaikan di bawah ini:
1) Judul
Judul artikel konseptual hendaknya mencerminkan dengan tepat masalah yang dibahas. Pilihan kata-kata yang tepat, mengandung unsur-unsur utama masalah, jelas dan setelah disusun dalam bentuk judul harus memiliki daya tarik yang cukup kuat bagi pembaca. Judul dapat ditulis dalam bentuk kalimat berita atau kalimat tanya. Salah satu ciri penting judul adalah “provokatif”, yaitu merangsang pembaca untuk membaca artikel. Hal ini penting karena artikel konseptual pada dasarnya bertujuan membuka wacana diskusi, argumentasi, analisis dan sintesis pendapat-pendapat para ahli atau pemerhari bidang tertentu. Hal ini berguna untuk menghindari penulisan rasa perbedaan antara junioritas dengan senioritas dan wibawa atau inferioritas penulis.
2) Nama Penulis
Nama penulis artikel ditulis tanpa disertai gelar akademik atau gelar profesional yang lain. Jika dikehendaki gelar kebangsawanan atau keagamaan boleh disertakan. Nama lembaga tempat penulis bekerja ditulis sebagai catatan kaki dihalaman pertama. Jika penulis lebih dari dua orang, ada dua cara (1) tetap mencantumkan semua nama penulis, (2) mencantumkan nama penulis utama saja, disertai tambahan dkk (dan kawan-kawan) atau nama penulis lain ditulis dalam catatan kaki atau di tempat lain jika tempat catatan kaki tidak memcukupi.
3) Abstrak dan kata kunci
Abstrak dan kata kunci harus selalu ada dalam setiap artikel yang ditulis untuk dimuat dalam jurnal. Kata kunci hendaknya disertai 3-5 kata kunci. Kata kunci berisikan istilah-istilah yang mewakili ide-ide atau konsep-konsep dasar yang terkait dalam artikel. Jika dapat diperoleh, kata kunci hendaknya diambil dari bidang ilmu terkait.
Pada dasarnya, abstrak artikel berisi seperangkat pernyataan yang ditulis secara ringkas dan padat tentang isi artikel yang dianggap paling penting dalam sebuah artikel. Bagian kata kunci memuat kata-kata yang mengandung konsep pokok yang dibahas dalam artikel itu. Pemilihan kata dianggap kunci informasi ilmiah. Dengan kata-kata kunci itu, suatu artikel dapat ditemukan dengan mudah jika jurnal yang memuatnya telah melakukan komputerisasi dalam sistem informasi ilmiah. Tata cara penulisan abstrak dan kata kunci dalam sebuah jurnal merupakan bagian penting yang diatur dalam gaya selingkung jurnal ilmiah. Penulis artikel harus memerhatikan tata cara penulisan abstrak dan kata kunci yang berlaku untuk sebuah jurnal karena masing-masing jurnal mungkin mengikuti tata cara yang berbeda-beda.
Dengan membaca abstrak, pembaca diharapkan segera memperolah gambaran umum masalah yang dibahas di dalam artikel. Ciri-ciri umum artikel konseptual seperti kritis dan provokatif hendaknya juga sudah terlihat di dalam abstrak ini, sehingga pembaca tertarik meneruskan bacaannya.
4) Pendahuluan
Bagian ini menguraikan hal-hal yang dapat menarik perhatiam pembaca dan memberikan acuan (konteks) permasalahan yang akan dibahas, misalnya menonjolkan hal-hal yang kontroversial atau belum tuntas dalam pembahasan permasalahan terdahulu. Bagian pendahuluan ini hendaknya diakhiri dengan rumusan singkat (1-2 kalimat) tentang hal-hal pokok yang akan dibahas dan tujuan pembahasan.
5) Bagian inti
Isi bagian ini sangat bervariasi, lazimnya berisi kupasan, analisis, argumentasi, komparasi, keputusan, dan pendirian atau sikap penulis mengenai masalah yang dibicarakan. Banyak subbagian juga tidak ditentukan, tergantung kepada kecukupan kebutuhan penulisan menyampaikan pikiran-pikiran. Di antara sifat-sifat artikel terpenting yang seharusnya ditampilkan di dalam bagian ini adalah kupasan argumentatif, analitik dan kritis dengan sistematika yang runtut dan logis, sejauh mungkin juga berisi komparatif dan menjauhi sifat tertutup dan instruktif. Walaupun demikian, perlu dijaga agar tampilan bagian ini tidak terlalu panjang dan menjadi bersifat enumaratif seperti diklat. Penggunan subbagian dan sub-subbagian yang terlalu banyak juga akan menyebabkan artikel tampil sepertu diklat.
6) Penutup
Penutup biasanya diisi dengan simpulan atau penegasan pendirian penulis atas masalah yang dibahas pada bagian sebelumnya. Banyak penulis yang berusaha menampilkan segala yang telah dibahas di bagian terdahulu, secara ringkas. Sebagian penulis menyertakan saran-saran atau pendirian alternatif. Jika memang dianggap tepat bagain terakhir ini dapat disajikan dalam subbagian tersendiri. Contoh bagian ini dapat dilihat pada berbagai artikel atau jurnal. Walaupun mungkin terdapat beberapa perbedaan gaya penyampaian, misi bagian akhir ini pada dasarnya sama; mengakhiri suatu diskusi dengan suatu pendirian atau menyodorkan beberapa alternatif penyelesaian.
2. Makalah
a. Pengertian Makalah
Makalah adalah suatu karya tulis ilmiah mengenai suatu topik atau masalah yang disajikan dalam seminar ilmiah. Makalah juga diartikan sebagai karya ilmiah mahasiswa mengenai suatu topik tertentu yang tercakup dalam ruang lingkup suatu perkuliahan. Makalah mahasiswa umumnya merupakan salah satu syarat untuk menyelesaikan suatu perkuliahan, baik berupa kajian pustaka maupun hasil kegiatan perkuliahan lapangan. Pengertian yang lain dari makalah adalah karya tulis yang memuat pemikiran tentang suatu masalah atau topik tertentu yang ditulis secara sistematis dan runtut dengan disertasi analisis yang logis dan objektif. Makalah ditulis untuk memenuhi tugas terstruktur yang diberikan oleh dosen atau ditulis atas inisiatif sendiri untuk disajikan dalam forum ilmiah.
b. Karakteristik Makalah
Makalah mahasiswa yang dimaksudkan dalam hal ini memiliki karakteristik sebagai berikut:
1) Diangkat dari suatu kajian literatur dan atau laporan pelaksanaan kegiatan lapangan.
2) Ruang lingkup makalah berkisar pada cakupan permasalahan dalam suatu mata kuliah.
3) Memperlihatkan kemampuan penulis/mahasiswa tentang permasalahan teoritis yang dikaji atau dalam menerapkan suatu prosedur, prinsip atau teori yang berhubungan dengan perkuliahan.
4) Memperlihatkan kemampuan para peneliti/mahasiswa dalam memahami isi dari sumber-sumber yang digunakan.
5) Menunjukkan kemampuan peneliti/mahaiswa dalam merangkai berbagai sumber informasi sebagai satu kesatuan sintesis yang utuh.
c. Sistematika Makalah
Secara garis besar makalah yang ditulis mahasiswa terdiri dari tiga bagian pokok sebagai berikut :
1) Pendahuluan, memuat tentang persoalan yang akan dibahas antara lain meliputi latar belakang masalah, fokus dan rumusan masalah, prosedur pemecahan masalah dan sistematika uraiannya.
2) Isi, yakni bagian yang memuat tentang kemampuan penulis dalam mendemonstrasikan kemampuannya untuk menjawab persoalan atau masalah yang dibahasnya. Pada bagian isi boleh terdiri dari lebih satu bagian sesuai dengan permasalahan yang dikaji.
3) Kesimpulan, yakni bagian yang memuat pemaknaan dari penulis terhadap diskusi atau pembahasan masalah berdasarkan kriteria dan sumber-sumber literatur atau data lapangan. Kesimpulan ini mengacu kepada hasil pembahasan permasalahan dan bukan merupakan ringkasan dari isi makalah.
3. Laporan Penelitian
a. Pengertian laporan penelitian
Laporan penelitian adalah karya ilmiah yang disusun sebagai satu rangkaian dari kegiatan penelitian yang dilakukan untuk menyampaikan hasil penelitian. Banyak, bahkan mungkin orang tidak pernah menghitung, hasil penelitian yang hanya menjadi dokumen mati di perpustakaan-perpustakaan perguruan tinggi, kelembagaan penelitian, atau perpustakaan pribadi. Mungkin juga hasil penitian hanya digunakan oleh penelitinya untuk keperluan kenaikan pangkat, sesudah itu menjadi dokumen mati. Ketika laporan penelitian selesai dibuat, seharusnya ada beban moral dan akademik pada diri peneliti untuk mempublikasikannya.
Salah satu kegiatan yang dilakukan peneliti pada keseluruhan kegiatan ilmiahnya adalah menulis laporan penelitian. Ketika memasuki fase ini, kemauan dan kemampuan menulis manjadi keniscayaan. Tanpa kemauan dan kemampuan itu, laporan penelitian tidak akan dapat diselesaikan secara total, dan kalaupun selesai tidak akan memberi sumbangsih yang berarti dilihat dari tujuan penelitian.
Secara umum tujuan laporan penelitian adalah melaporkan proses dan hasil kerja penelitian agar dapat dikonsumsi oleh masyarakat luas atau pemakai, di samping tujuan yang diperuntukkan bagi peneliti sendiri, seperti mendapatkan angka kredit, dibukukan untuk dikirim ke penerbit, dikirim ke perpustakaan resmi, dikirim ke sejawat, dan sebagainya.
Pekerjaan menulis laporan dan mempublikasikan hasil temuan tersebut bukanlah pekerjaan yang mudah. Banyak energi yang harus dikeluarkan untuk pekerjaan ini. Di samping itu, peneliti perlu memiliki keterampilan khusus untuk menuangkan hasil penelitiannya secara baik.
b. Sistematika Laporan Penelitian
Tidak ada standar buku sistematika laporan, yang ada adalah standar minimal dan standar “standar rasional “. Merujuk pada tradisi penelitian pada umumnya, beberapa contoh standar rasional adalah sebagai berikut:
1) Latar belakang masalah mendahului rumusan masalah
2) Telaah pustaka mendahului metodologi penelitian
3) Asumsi-asumsi mendahului hipotesis-hipotesis
4) Hasil penelitian diikuti dengan diskusi atau pembahasan
5) Kesimpulan mendahului saran dan implikasi
6) Deskripsi tujuan penelitian mendahului deskripsi mengenai kegunaan hasil penelitian.
Tidak ada sistematika baku bagi sebuah laporan penelitian. Kalaupun ada, sifat dibakukannya tidak lebih dari sebuah konvensi atau kesepakatan. Menulis laporan merupakan suatu pekerjaan yang harus dilakukan secara sadar, kemudian mendisiplinkan diri sendiri untuk menyelesaikannya. Kemampuan menulis tidak datang dari seseorang atau bagaikan durian runtuh atau muncul secara tiba-tiba. Menulis membutuhkan kemauan, kedisiplinan, dan latihan secara terus-menerus. Tidak banyak orang yang dapat menulis dengan baik tanpa adanya latihan dan kemauan keras untuk itu. Namun demikian, peneliti jangan gemetar dan cemas karena siapa pun sebenarnya akan dapat menjadi penulis yang baik sepanjang ada kemauan kuat untuk itu.
c. Petunjuk praktis penyusunan laporan
Menyusun laporan merupakan suatu seni sehingga peneliti dapat berkreasi dengan caranya sendiri. Peneliti mempunyai keleluasaan untuk bekerja dengan caranya sendiri. Berikut disajikan petunjuk praktis penyusunan laporan dengan ketentuan dapat dilakukan secara kenyal. Adapun langkah-langkah tentatif adalah sebagai berikut:
1) Buat outline (garis-garis besar laporan penelitian) dengan memperhatikan pedoman yang berlaku atau ditentukan.
2) Buat draf batang tubuh laporan, mulai dari bagian pendahuluan hingga kesimpulan, rekomendasi, implikasi, dan daftar kepustakaan.
3) Buat abstrak laporan, barangkali dalam dua versi bahasa
4) Buat kata pengantar laporan
5) Buat daftar tabel, gambar, foto, grafik, lampiran, apendik, dan sejenisnya
6) Buat daftar isi secara lengkap
7) Lakukan pengetikan laporan penelitian
8.) Lengkapi daftar isi dengan halaman-halaman
9) Lengkapi laporan secara menyeluruh, baik segi-segi ilmiah, bahasa atau cara pengetikan
10) Lakukan pengetikan akhir
11) Penjilidan laporan
12) Pengiriman laporan
4. Skripsi
Di perguruan tinggi, khususnya jenjang S1, mahasiswa dilatih untuk menghasilkan karya ilmiah, seperti makalah, laporan praktikum, dan skrispsi, (tugas akhir). Yang disebut terakhir umumnya merupakan laporan penelitian berskala kecil tetapi dilakukan cukup mendalam. Sementara itu makalah yang ditugaskan kepada mahasiswa lebih merupakan simpulan dan pemikiran ilmiah mahasiswa berdasarkan penelaahan terhadap karya-karya ilmiah yang ditulis pakar-pakar dalam bidang persoalan yang dipelajari.
a. Pengertian Skripsi
Skripsi merupakan karya ilmiah akhir dari mahasiswa guna menyelesaikan program S1 di Fakultas Ilmu Sosial Universitar Negeri Semarang. Skripsi tersebut sebagai bukti kemampuan akademis mahasiswa yang berhubungan dengan penelitian dan pemecahan masalah-masalah sosial. Atas dasar itu maka skripsi yang disusun mahasiswa harus dipertahankan dalam suatu ujian akhir guna mencapai gelar Sarjana.
b. Karakteristik Skripsi
Beberapa karakteristik pokok yang perlu dimiliki dalam penyusunan skripsi mahasiswa, antara lain :
1) Disusun berdasarkan hasil kajian literatur dan atau pengamatan lapangan.
2) Ditulis dengan menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar berdasarkan ejaan yang disempurnakan.
3) Bidang kajian difokuskan kepada permasalahan sosial dan upaya pemacahannya, baik dalam lingkup mikro maupun makro.
4) Sistematika Skripsi

a) Bagian Persiapan :
SAMPUL
HALAMAN JUDUL
HALAMAN PENGESAHAN
ABSTRAK
KATA PENGANTAR
DAFTAR ISI
DAFTAR TABEL
DAFTAR BAGAN (GAMBAR)
b) Bagian Teks:

BAB I. PENDAHULUAN
BAB II. LANDASAN TEORI (Diberi judul sesuai dengan isi Bab II)
BAB III. METODE PENELITIAN
BAB IV. DESKRIPSI DATA DAN PEMBAHASAN
BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN.
c) Bagian Akhir:

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN