Tuli…
itu takdir ku saat ini. Lebih dari 100 orang menghina ku setiap harinya. Mungkin
kalian bingung bagaimana bisa aku mengetahuinya, sedangkan telinga ku sama
sekali tidak berfungsi…?! Kalian tak perlu tau dari mana aku mendengar. Yah,
hanya Tuhan yang tau dan memang, semua pendengaran ku di ciptakan dari-Nya.
Nama
ku Gina, mungkin saat ini umurku sama dengan kalian. Mungkin pendidikan ku sama
seperti kalian. Mungkin sifat ku sama seperti kalian. Mungkin, mungkin, dan
mungkin. Aku tidak bisa mengatakannya secara pasti karena aku tidak terlalu
peduli dengan hidupku. Orangtua ku pun
begitu. Mereka sudah tak anggap aku ada. Keadaanku yang tuli seperti ini
membuat mereka malu untuk mengakui pada masyarakat kalau aku adalah anak
mereka.
Dulu,
aku terlahir normal. Bola mata biru yang menjadi daya tarik ku, hidung mancung
yang menjadi pesonaku, dan telinga putih kecil yang menjadi kebanggaanku.
Tapi
apa… saat menjelang ulang tahun ku yang ke 16 tahun, aku mengalami kecelakaan
besar yang mengakibatkan kedua telingaku berhenti berfungsi. Saat kecelakaan
yang menimpa ku, banyak teman cowok ku yang datang menjenguk. Tapi, setelah
mengetahui kalau aku tuli mereka menghilang. Aku tau sekarang. Mereka berteman
dengan ku hanya karena pesonaku. Saat itu aku mulai terpuruk. Aku berpikir
melampaui batas. Percobaan bunuh diri sering aku lalukan di sekolah ataupun
dirumah.
Setelah
jam sekolah usai, semua siswa pulang kerumah. Namun tidak bagiku. Aku telah
menyiapkan sebilah pisau kecil yang aku selipkan di tasku sejak dari rumah. Aku
mencoba menyayat urat nadi ku hingga putus, namun hal itu gagal. Urat nadiku
hanya tersayat setengah. Kebetulan, hal ini di saksikan langsung oleh salah
seorang teman lelaki ku yang sangat tidak ku sangka kehadirannya, Bobby. Bobby
langsung membawa ku kerumah sakit, dan aku sangat kecewa karena percobaan bunuh
diri ku gagal.
Kala itu, Bobby menjadi teman dekat ku. Dia
selalu menemani aku di rumah sakit. Saat keterpurukanku datang, dia selalu
menepisnya dengan nasihat-nasihat bijaknya. Perlahan ku coba menepis
bayang-bayang cinta yang menghantui. Itu semua karena aku sadar, aku bukan-lah
seorang cewek yang sempurna yang bisa di sandingkan dengan cowok sempurna yah
sesempurna Bobby. Namun, waktu mengubah segalanya. Bobby dan cinta telah
mengubah pemikiranku tentang tuli yang menjadi takdirku.
Saat
ini, aku tidak terlalu memikirkan lagi tentang cemoohan orang luar tetang aku,
sampai suatu ketika hal yang paling ku benci terjadi…
Sabtu,
5 Januari 2013…
Bobby
mengajak ku pergi ketaman sebelah komplek ku. Dengan berjalan kaki kami lalui
jalan setapak yang bercorak batu kali yang disusun rapi. Canda, tawa, dan
gurawan yang kami rasa. Yah, kalian jangan pikirkan cara kami berkomunikasi,
karena kalian tak tahu apa yang sesungguhanya terjadi apabila seseorang
tersebut saling mencintai. Di pertengahan jalan, kami bertemu dengan seorang
cewek yang mengenal Bobby. Ternyata cewek tersebut ialah mantan kekasihnya
Bobby, Jani. Guyonan demi guyonan yang ia lontarkan kepada kami, hingga pada
titiknya guyonan dia sangat menyinggung hati ku walau aku tidak mendengarnya
secara langsung.
Titik
demi titik air mata ku jatuh hingga menganak sungai. Hati ku bagai tersayat
pisau cinta yang diasah tajam dengan bumbu kebencian. Aku bagai tak mengenal
dunia saat kata TULI yang ia lontarkan ke hati ku secara tiba-tiba.
Aku
pun langsung berlari dengan sekuat tenaga meninggalkan taman dan melewati rumah
ku. Bobby yang saat itu tengah membeli
es krim langsung berlari mengejar ku. Mungkin, aku telah membuat jejak pelarian
dengan air mata yang berceceran di jalanan. Aku masih berlari dengan kencang
hingga sampai di suatu persimpangan jalan raya dan duaaarrrrr…… sebuah mobil
menabrak Bobby yang ingin menyelamatkan aku. Aku pun langsung membawa Bobby ke
rumah sakit terdekat. Sekian jam aku menunggu Bobby sadar hingga datanglah
keluarganya dan… cewek itu. Semua keluarga Bobby men-judge aku. Aku pun pulang
karena tak tahan dengan tekanan batin yang mereka lontarkan pada diri ku. Lama
aku tak berkunjung menjenguk Bobby yang sedang koma di rumahnya. Dan tiba-tiba
terdengar kabar kalau Bobby sadar dan ingin mengatakan sesuatu kepada ku.
Aku
bergegas kerumah Bobby. Semua orang menunggu kehadiran ku untuk Bobby. Tahukah
kalian apa yang Bobby katakana pada ku?? “Gina… maafkan aku, aku tidak bisa
menjaga mu lagi. Aku akan pulang ke rumah Tuhan dan tahukah kau, di rumah Tuhan
sana aku akan berbicara sekaligus memohon kepada Tuhan agar kamu bisa mendengar
lagi. Aku ingin kamu bisa mendengarkan lagu keayangan mu lagi “Especially For You”
Setelah
meninggalnya Bobby, Gina dapat mendengar kembali. Berjuta kali Gina mengucapkan terima
kasih kepada arwah Bobby. Dan keluarga
Bobby akhirnya bisa menerima kejadiaan ini dengan lapang dada.
Kebiasaan
Gina sesudah pulang sekolah yakni mengunjungi kuburan Bobby dan menyanyikan
lagu ‘Especially For You’
Especially
For You
I
Wanna Let You Know What I Was Going Through
All
The Time We Were Apart I Though Of You
You
Were In My Heart
My
Love Never Changed
I
Still Feel The Same
Especially
For You
I
Wanna Tell You I Was Felling That Way, Too
And
If Dreams Were Wings, You Know
I
Would Have Flown To You
To
Be Where You Are
No
Matter How Far
And
Now That I’m Next To You
Ku
harap kau menyadari ini..!! (REALIZE)
Orang
tuli sejatinya tidak bisa mendengar tapi, Tuhan menyayangi semua hambanya.
Biarkan Tuhan mengambil pendengaran ku tapi Tuhan adil, Tuhan memberiku Hati.
Hati yang akan selalu bergetar apabila hal buruk menggores salah satu saja
lapisan hati ku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar