Label

Sabtu, 16 Februari 2013

Mendengar Apa Yang Tak Kamu Ucap



Tuli… itu takdir ku saat ini. Lebih dari 100 orang menghina ku setiap harinya. Mungkin kalian bingung bagaimana bisa aku mengetahuinya, sedangkan telinga ku sama sekali tidak berfungsi…?! Kalian tak perlu tau dari mana aku mendengar. Yah, hanya Tuhan yang tau dan memang, semua pendengaran ku di ciptakan dari-Nya.
Nama ku Gina, mungkin saat ini umurku sama dengan kalian. Mungkin pendidikan ku sama seperti kalian. Mungkin sifat ku sama seperti kalian. Mungkin, mungkin, dan mungkin. Aku tidak bisa mengatakannya secara pasti karena aku tidak terlalu peduli dengan  hidupku. Orangtua ku pun begitu. Mereka sudah tak anggap aku ada. Keadaanku yang tuli seperti ini membuat mereka malu untuk mengakui pada masyarakat kalau aku adalah anak mereka.
Dulu, aku terlahir normal. Bola mata biru yang menjadi daya tarik ku, hidung mancung yang menjadi pesonaku, dan telinga putih kecil yang menjadi kebanggaanku.
Tapi apa… saat menjelang ulang tahun ku yang ke 16 tahun, aku mengalami kecelakaan besar yang mengakibatkan kedua telingaku berhenti berfungsi. Saat kecelakaan yang menimpa ku, banyak teman cowok ku yang datang menjenguk. Tapi, setelah mengetahui kalau aku tuli mereka menghilang. Aku tau sekarang. Mereka berteman dengan ku hanya karena pesonaku. Saat itu aku mulai terpuruk. Aku berpikir melampaui batas. Percobaan bunuh diri sering aku lalukan di sekolah ataupun dirumah.
Setelah jam sekolah usai, semua siswa pulang kerumah. Namun tidak bagiku. Aku telah menyiapkan sebilah pisau kecil yang aku selipkan di tasku sejak dari rumah. Aku mencoba menyayat urat nadi ku hingga putus, namun hal itu gagal. Urat nadiku hanya tersayat setengah. Kebetulan, hal ini di saksikan langsung oleh salah seorang teman lelaki ku yang sangat tidak ku sangka kehadirannya, Bobby. Bobby langsung membawa ku kerumah sakit, dan aku sangat kecewa karena percobaan bunuh diri ku gagal.
 Kala itu, Bobby menjadi teman dekat ku. Dia selalu menemani aku di rumah sakit. Saat keterpurukanku datang, dia selalu menepisnya dengan nasihat-nasihat bijaknya. Perlahan ku coba menepis bayang-bayang cinta yang menghantui. Itu semua karena aku sadar, aku bukan-lah seorang cewek yang sempurna yang bisa di sandingkan dengan cowok sempurna yah sesempurna Bobby. Namun, waktu mengubah segalanya. Bobby dan cinta telah mengubah pemikiranku tentang tuli yang menjadi takdirku.
Saat ini, aku tidak terlalu memikirkan lagi tentang cemoohan orang luar tetang aku, sampai suatu ketika hal yang paling ku benci terjadi…
Sabtu, 5 Januari 2013…
Bobby mengajak ku pergi ketaman sebelah komplek ku. Dengan berjalan kaki kami lalui jalan setapak yang bercorak batu kali yang disusun rapi. Canda, tawa, dan gurawan yang kami rasa. Yah, kalian jangan pikirkan cara kami berkomunikasi, karena kalian tak tahu apa yang sesungguhanya terjadi apabila seseorang tersebut saling mencintai. Di pertengahan jalan, kami bertemu dengan seorang cewek yang mengenal Bobby. Ternyata cewek tersebut ialah mantan kekasihnya Bobby, Jani. Guyonan demi guyonan yang ia lontarkan kepada kami, hingga pada titiknya guyonan dia sangat menyinggung hati ku walau aku tidak mendengarnya secara langsung.
Titik demi titik air mata ku jatuh hingga menganak sungai. Hati ku bagai tersayat pisau cinta yang diasah tajam dengan bumbu kebencian. Aku bagai tak mengenal dunia saat kata TULI yang ia lontarkan ke hati ku secara tiba-tiba.
Aku pun langsung berlari dengan sekuat tenaga meninggalkan taman dan melewati rumah ku. Bobby  yang saat itu tengah membeli es krim langsung berlari mengejar ku. Mungkin, aku telah membuat jejak pelarian dengan air mata yang berceceran di jalanan. Aku masih berlari dengan kencang hingga sampai di suatu persimpangan jalan raya dan duaaarrrrr…… sebuah mobil menabrak Bobby yang ingin menyelamatkan aku. Aku pun langsung membawa Bobby ke rumah sakit terdekat. Sekian jam aku menunggu Bobby sadar hingga datanglah keluarganya dan… cewek itu. Semua keluarga Bobby men-judge aku. Aku pun pulang karena tak tahan dengan tekanan batin yang mereka lontarkan pada diri ku. Lama aku tak berkunjung menjenguk Bobby yang sedang koma di rumahnya. Dan tiba-tiba terdengar kabar kalau Bobby sadar dan ingin mengatakan sesuatu kepada ku.
Aku bergegas kerumah Bobby. Semua orang menunggu kehadiran ku untuk Bobby. Tahukah kalian apa yang Bobby katakana pada ku?? “Gina… maafkan aku, aku tidak bisa menjaga mu lagi. Aku akan pulang ke rumah Tuhan dan tahukah kau, di rumah Tuhan sana aku akan berbicara sekaligus memohon kepada Tuhan agar kamu bisa mendengar lagi. Aku ingin kamu bisa mendengarkan lagu keayangan mu lagi “Especially For You”
Setelah meninggalnya Bobby, Gina dapat mendengar  kembali. Berjuta kali Gina mengucapkan terima kasih kepada arwah Bobby.  Dan keluarga Bobby akhirnya bisa menerima kejadiaan ini dengan lapang dada.
Kebiasaan Gina sesudah pulang sekolah yakni mengunjungi kuburan Bobby dan menyanyikan lagu ‘Especially For You’
Especially For You
I Wanna Let You Know What I Was Going Through
All The Time We Were Apart I Though Of You
You Were In My Heart
My Love Never Changed
I Still Feel The Same

Especially For You

I Wanna Tell You I Was Felling That Way, Too
And If Dreams Were Wings, You Know
I Would Have Flown To You
To Be Where You Are
No Matter How Far
And Now That I’m Next To You

Ku harap kau menyadari ini..!!                                             (REALIZE)
Orang tuli sejatinya tidak bisa mendengar tapi, Tuhan menyayangi semua hambanya. Biarkan Tuhan mengambil pendengaran ku tapi Tuhan adil, Tuhan memberiku Hati. Hati yang akan selalu bergetar apabila hal buruk menggores salah satu saja lapisan hati ku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar