Ibu.
Siapa yang tak tahu dengan kata itu?. Semua orang didunia terlahir dari rahim
sosok seorang ibu. Seiring berjalannya waktu, kasih sayangnya tak pernah pudar.
Kehangatan jiwanya, lembut belainya, dan keteguhan raganya selalu tercurah
setiap waktu. Kala kau butuh semuanya, ibu selalu hadir, walau raganya tak
sepenuhnya ikut serta menjaga dan menemani hidupmu. Terkadang, tak semua waktu
kita, kita jalani dengan suka cita bersama ibu. Ada waktunya kita membenci ibu.
Pertanyaan besar yang berkecamuk saat ini ialah, Kenapa Bisa ??? sebagai anak,
patut kah kita membenci seseorang yang telah berjuang melahirkan, menghidupkan,
dan mensejahterkan kita ??? jawabannya TIDAK… patut kalian ketahui, seorang ibu
hidup hanya untuk anaknya. Mensejahtekan anaknya agar anaknya setara dengan
anak-anak orang lain. Banting tulang mencari rupiah demi rupiah. Lebih-lebih
tiadanya seorang ayah yang mambantu mencari nafkah.
Hari
berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan pun berganti tahun. Akankah kita
siap menghadapi segala cobaan yang akan menimpa malaikat hidup kita. Apa yang
akan kalian lakukan jikalau ibu kalian tidak seperti ibu yang lainnya
*unperfectly*… akankah kalian malu ??? akankah
kalian men-judge Tuhan???
Helena.
Itu namaku. Dulu, saat aku terlahir ke dunia, aku sangat bahagia. Ayah ibu yang
sangat menyayangiku. Canda tawa kami rajut bersama. Namun, setelah aku beranjak
dewasa, paku demi paku kehidupan mulai menyerang, sampai suatu ketika balon
kehidupan keluarga kami pecah. Ayah mengidap penyakit Stroke setelah sempat
mengalami koma kurang lebih se-tahun. Awalnya, ayah di perkirakan sembuh, namun
Tuhan berkata lain. Tangan Tuhan lembut menyapa ayah, sehingga ayah tergoda
untuk pulang ke sisi-Nya.
Sekarang,
tinggalah sosok seorang ibu yang aku punya. Ibu selalu menyeimbangkan perannya
sebagai ibu sekaligus ayah yang kini sudah takku punya. Tapi, aku tidak terlalu
suka dengan ibuku. Ibu, ibu tidak terlalu bisa diandalkan. Ibuku cacat.
Terkadang, aku berpikir kenapa Tuhan begitu kejam denganku. Setelah ayah
pulang, ibuku mengalami kecelakaan besar sehingga kakinya lumpuh.
Hal
yang palingku takutkan ialah ^berkerja^. Aku tidak terlalu bisa mengerjakan
pekerjaan rumah. Tak bisa mencuci baju, mencuci piring, menyapu, mengepel
lebih-lebih memasak pun aku tak bisa. Aku semakin gila. Gila karena kebutuhan
ekonomi kami yang cukup tinggi karena harus membayar biaya sekolah yang entah
berapa jumlahnya sedangkan aku tak bisa apa-apa. Sampai suatu ketika ibu
menghampiriku yang sedang merenung di bawah pohon ceri di belakang rumah dengan
membawa secarik Koran di tanganya. Aku
tak terlalu peduli dengannya. Sehingga saat ibu bosan berusaha untuk mengajak
ku mengobrol ia malah meninggalkanku pergi, aku pun penasaran dengan isi Koran
yang dibawanya. Aku membacanya dengan perlahan. Sekarangku tahu, ibu
mengingkanku untuk mengikuti perlombaan menari. Aku sedikit tak pecaya. Kenapa
ibu menyuruhku untuk melakukanya. Ibu gila. Aku tidak bisa menari. Kenapa ia
menyuruhku demikian.
Aku
lekas menghampiri ibu lalu melempar Koran tersebut ke mukanya. Dan aku
memakinya. “Ibu, ibu sakit apa, sampai-sampai menyuruhku untuk mengikuti
perlombaan yang sedikit tak ku minati itu. Aku tidak bisa menari wahai ibuku
yang cacat.” Kataku. Namun, ibu diam seribu bahasa. Yang tampak ialah
bulir-bulir bening yang sesaat akan tumpah membanjiri lahan pipinya. “dasar
cengeng” kataku sadis meninggalkan ibu.
Setelah
kejadian itu, ibu tidak bosan-bosanya membujukku untuk mengikuti perlombaan
itu. Terkadang, rasa kasihan pun muncul dengan tiba-tiba menerobos relung
hatiku. Sampai suatu ketika perasaan kasihan itu mengalir kepuncak hatiku. Aku
tidak bisa menepisnya, dan akhirnya aku mengikuti perlombaan itu. “Bagaimana caranya”
pekikku di telinga ibu. Ibu diam tanpa sepatah katapun keluar dari bibir
hitamnya. Tak lama kemudian dia beranjak dari tempat duduknya lalu mengambil
sebuah kaset di laci lemari dan memberinya kepadaku.
“Kaset
tarian daerah” pikirku dalam hati. Yah setidaknya, kaset ini bisa menghilangkan
rasa cemasku tentang biaya sekolahku.
2
minggu telah berlalu. Sampai suatu ketika, seminggu sebelum hari perlombaan akan dimulai
kesedihan besar menimpaku. Ibu, malaikat hidupku telah pergi. Sayap yang ia
rajut selama hidupnya membuat dia bisa terbang sampai kekediaman Tuhan. Aku
frustasi. Aku gila. Perasaan yang bercampur aduk membuat aku berputus asa. Aku
ingin pergi menyusulnya, ke rumah Tuhan. Aku ingin tetap bersamanya, bersama
ayah dan ibu di langit.
Tepat
detik ini, aku membenci Tuhan. Tuhan selalu mengembil segala sesuatu yang aku
punya, Ayah dan ibu. Dan mengapa aku
tidak di ikut setakan. Aku ingin mati.
Aku tak sanggup hidup sebatang kara. Menjalani takdir berdua bersama hati,
paru-paru, ginjal yang sama sekali tidak bisa diajak berbincang.
Tepat
hari ini, hari perlombaan dimulai. Entah apa yang membuatku tak bersemangat
hari ini. Aku rindu akan sosok ibu. Sekarang, jika rindu menghantui aku hanya
bisa membelai barang-barang mendiang ibu di lemarinya. Bajunya, tasnya,
peralatan make-upnya dan lain-lain. Saat aku membuka lemari bu, ku dapatai
seonggok kotak kecil berwarna kelabu yang telah usang di sudut lemari. Saatku
buka, aku terkejut. Isi yang terdapat didalam kotak itu ialah sepasang bulu
mata palsu. Dan, secari kertas Koran. Aku penasaran akan makna benda-benda ini.
Perlahanku baca isi Koran tersebut. Aku tersentak kaget. Tanpa disadari,
bulir-bulir air mata berjatuhan membasahi pipiku. “Ternyata, ternnyyaattaa
iibuu seoorang penari.” Ucapku meninggi. Aku sedikit tak percaya. Tanpa pikir
panjang aku beranjak pergi dari kamar lalu pergi keperlombaan.
Dalam
benakku, aku tak ingin mengecewakan ibu. Ibu, walau beribu kesalahanku menumpuk
di pundak ibu, namun aku yakin ibu telah memaafkanyya. Dan kini, tinggalah aku
yang berusaha untuk memuat suatu goresan kecil dengan kebanggan besar di hati
ibu. Aku bertekad untuk memenangkan perlombaan itu.
Senang
bercampur aduk dengan sedih. Tuhan mendengar do’a ku. Aku pun memenangkan
perlombaan menari itu.
Tanpa
pikir panjang, akupun berlari kegirangan menuju makam ayah dan ibu. aku akan
melaporkan kepadanya kalau aku telah memenangkan perlombaan yang ibu inginkan
terjadi pada aku.
“Ibu,
aku harap ibu senang dengan apa yang aku terima hari ini. Aku menang ibu. Aku
menang. Semoga, ibu tenang di sana ibu. karena aku akan selalu mendo’akan ibu
sekarang dan selamanya”
Hari
ini, tergoreslah sudah 2 trophy dalam hidupku. Trophy yang menjadi kebanggaan
yakni kelegaan akan apa yang telah ku goreskan pada ingatan ibu karena
keinginan ibu yang sudah ku lakukan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar