Label

Sabtu, 16 Februari 2013

Tergores Luka Pada Malaikat Hidupku



Ibu. Siapa yang tak tahu dengan kata itu?. Semua orang didunia terlahir dari rahim sosok seorang ibu. Seiring berjalannya waktu, kasih sayangnya tak pernah pudar. Kehangatan jiwanya, lembut belainya, dan keteguhan raganya selalu tercurah setiap waktu. Kala kau butuh semuanya, ibu selalu hadir, walau raganya tak sepenuhnya ikut serta menjaga dan menemani hidupmu. Terkadang, tak semua waktu kita, kita jalani dengan suka cita bersama ibu. Ada waktunya kita membenci ibu. Pertanyaan besar yang berkecamuk saat ini ialah, Kenapa Bisa ??? sebagai anak, patut kah kita membenci seseorang yang telah berjuang melahirkan, menghidupkan, dan mensejahterkan kita ??? jawabannya TIDAK… patut kalian ketahui, seorang ibu hidup hanya untuk anaknya. Mensejahtekan anaknya agar anaknya setara dengan anak-anak orang lain. Banting tulang mencari rupiah demi rupiah. Lebih-lebih tiadanya seorang ayah yang mambantu mencari nafkah.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan pun berganti tahun. Akankah kita siap menghadapi segala cobaan yang akan menimpa malaikat hidup kita. Apa yang akan kalian lakukan jikalau ibu kalian tidak seperti ibu yang lainnya *unperfectly*… akankah kalian malu ???  akankah kalian men-judge Tuhan???
Helena. Itu namaku. Dulu, saat aku terlahir ke dunia, aku sangat bahagia. Ayah ibu yang sangat menyayangiku. Canda tawa kami rajut bersama. Namun, setelah aku beranjak dewasa, paku demi paku kehidupan mulai menyerang, sampai suatu ketika balon kehidupan keluarga kami pecah. Ayah mengidap penyakit Stroke setelah sempat mengalami koma kurang lebih se-tahun. Awalnya, ayah di perkirakan sembuh, namun Tuhan berkata lain. Tangan Tuhan lembut menyapa ayah, sehingga ayah tergoda untuk pulang ke sisi-Nya.
Sekarang, tinggalah sosok seorang ibu yang aku punya. Ibu selalu menyeimbangkan perannya sebagai ibu sekaligus ayah yang kini sudah takku punya. Tapi, aku tidak terlalu suka dengan ibuku. Ibu, ibu tidak terlalu bisa diandalkan. Ibuku cacat. Terkadang, aku berpikir kenapa Tuhan begitu kejam denganku. Setelah ayah pulang, ibuku mengalami kecelakaan besar sehingga kakinya lumpuh.
Hal yang palingku takutkan ialah ^berkerja^. Aku tidak terlalu bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Tak bisa mencuci baju, mencuci piring, menyapu, mengepel lebih-lebih memasak pun aku tak bisa. Aku semakin gila. Gila karena kebutuhan ekonomi kami yang cukup tinggi karena harus membayar biaya sekolah yang entah berapa jumlahnya sedangkan aku tak bisa apa-apa. Sampai suatu ketika ibu menghampiriku yang sedang merenung di bawah pohon ceri di belakang rumah dengan membawa secarik Koran di tanganya.  Aku tak terlalu peduli dengannya. Sehingga saat ibu bosan berusaha untuk mengajak ku mengobrol ia malah meninggalkanku pergi, aku pun penasaran dengan isi Koran yang dibawanya. Aku membacanya dengan perlahan. Sekarangku tahu, ibu mengingkanku untuk mengikuti perlombaan menari. Aku sedikit tak pecaya. Kenapa ibu menyuruhku untuk melakukanya. Ibu gila. Aku tidak bisa menari. Kenapa ia menyuruhku demikian.
Aku lekas menghampiri ibu lalu melempar Koran tersebut ke mukanya. Dan aku memakinya. “Ibu, ibu sakit apa, sampai-sampai menyuruhku untuk mengikuti perlombaan yang sedikit tak ku minati itu. Aku tidak bisa menari wahai ibuku yang cacat.” Kataku. Namun, ibu diam seribu bahasa. Yang tampak ialah bulir-bulir bening yang sesaat akan tumpah membanjiri lahan pipinya. “dasar cengeng” kataku sadis meninggalkan ibu.
Setelah kejadian itu, ibu tidak bosan-bosanya membujukku untuk mengikuti perlombaan itu. Terkadang, rasa kasihan pun muncul dengan tiba-tiba menerobos relung hatiku. Sampai suatu ketika perasaan kasihan itu mengalir kepuncak hatiku. Aku tidak bisa menepisnya, dan akhirnya aku mengikuti perlombaan itu. “Bagaimana caranya” pekikku di telinga ibu. Ibu diam tanpa sepatah katapun keluar dari bibir hitamnya. Tak lama kemudian dia beranjak dari tempat duduknya lalu mengambil sebuah kaset di laci lemari dan memberinya kepadaku.
“Kaset tarian daerah” pikirku dalam hati. Yah setidaknya, kaset ini bisa menghilangkan rasa cemasku tentang biaya sekolahku.
2 minggu telah berlalu. Sampai suatu ketika,  seminggu sebelum hari perlombaan akan dimulai kesedihan besar menimpaku. Ibu, malaikat hidupku telah pergi. Sayap yang ia rajut selama hidupnya membuat dia bisa terbang sampai kekediaman Tuhan. Aku frustasi. Aku gila. Perasaan yang bercampur aduk membuat aku berputus asa. Aku ingin pergi menyusulnya, ke rumah Tuhan. Aku ingin tetap bersamanya, bersama ayah dan ibu di langit.
Tepat detik ini, aku membenci Tuhan. Tuhan selalu mengembil segala sesuatu yang aku punya, Ayah  dan ibu. Dan mengapa aku tidak di ikut setakan. Aku  ingin mati. Aku tak sanggup hidup sebatang kara. Menjalani takdir berdua bersama hati, paru-paru, ginjal yang sama sekali tidak bisa diajak berbincang.
Tepat hari ini, hari perlombaan dimulai. Entah apa yang membuatku tak bersemangat hari ini. Aku rindu akan sosok ibu. Sekarang, jika rindu menghantui aku hanya bisa membelai barang-barang mendiang ibu di lemarinya. Bajunya, tasnya, peralatan make-upnya dan lain-lain. Saat aku membuka lemari bu, ku dapatai seonggok kotak kecil berwarna kelabu yang telah usang di sudut lemari. Saatku buka, aku terkejut. Isi yang terdapat didalam kotak itu ialah sepasang bulu mata palsu. Dan, secari kertas Koran. Aku penasaran akan makna benda-benda ini. Perlahanku baca isi Koran tersebut. Aku tersentak kaget. Tanpa disadari, bulir-bulir air mata berjatuhan membasahi pipiku. “Ternyata, ternnyyaattaa iibuu seoorang penari.” Ucapku meninggi. Aku sedikit tak percaya. Tanpa pikir panjang aku beranjak pergi dari kamar lalu pergi keperlombaan.
Dalam benakku, aku tak ingin mengecewakan ibu. Ibu, walau beribu kesalahanku menumpuk di pundak ibu, namun aku yakin ibu telah memaafkanyya. Dan kini, tinggalah aku yang berusaha untuk memuat suatu goresan kecil dengan kebanggan besar di hati ibu. Aku bertekad untuk memenangkan perlombaan itu.
Senang bercampur aduk dengan sedih. Tuhan mendengar do’a ku. Aku pun memenangkan perlombaan menari itu.
Tanpa pikir panjang, akupun berlari kegirangan menuju makam ayah dan ibu. aku akan melaporkan kepadanya kalau aku telah memenangkan perlombaan yang ibu inginkan terjadi pada aku.
“Ibu, aku harap ibu senang dengan apa yang aku terima hari ini. Aku menang ibu. Aku menang. Semoga, ibu tenang di sana ibu. karena aku akan selalu mendo’akan ibu sekarang dan selamanya”
Hari ini, tergoreslah sudah 2 trophy dalam hidupku. Trophy yang menjadi kebanggaan yakni kelegaan akan apa yang telah ku goreskan pada ingatan ibu karena keinginan ibu yang sudah ku lakukan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar