Label

Sabtu, 16 Februari 2013

Belaian Sang Pencipta


Plukkk…… sebuah bongkahan batu besar dilempar dengan sengaja ke dalam kolam. Terlihat  seorang Neyla mengenakan baju biru donker serasi dengan jilbabnya duduk dengan pikiran kosong dibawah pohon rindang didepan kolam ikan sekolah. Ia meratapi nasibnya, yang kelam tanpa sebuah pelita meneranginya. Terkadang menangis menahan berjuta luka yang tak henti menyayat kepingan hatinya. Dilema besar sedang melandanya. Batinya meringis ingin mempertahankan kepercayaan yang menuntunnya hingga saat ini. Tragedi yang terjadi minggu lalu membuat Neyla enggan pulang kerumah. Bagaimana bisa, ayahnya memaksa Neyla agar memeluk agamanya, Kristen. Memang, Neyla tersebut belum mempunyai pengetahuan yang luas tentang agama. Dalam benaknya, ia mempunyai cita-cita untuk membahagiakan sang ayah yang terpuruk karena hutang yang melilit usaha ayahnya. “Mungkinkah aku menjadi murtad dan melepaskan jilbabku”. Namun dilain sisi, Neyla sangat mencintai ibunya dan agama yang di peluknya, Islam.
Kini, Neyla tinggal bersama ayahnya pasca perceraiaan dengan ibunya. Neyla terpaksa tinggal bersama ayahnya karena tidak tega akan kondisi ayahnya yang semakin parah akibat stress berat. Ayah memulai bicara dengan maksud menghasut Neyla agar ia mau menuruti apa kemauaan ayah.
“Ayah tidak akan memaksa kamu lagi nak, sekarang terserah apa kata hatimu. Tapi, ayah akan selalu ada  jikalau kamu berubah pikiran, ayah selalu menunggu. Apakah kamu tidak risih dengan baju serta kain panjang selalu menutupi aura kecantikanmu. Apakah kamu tidak melihat, kebanyakan perempuan saat ini lagi trennya baju mini yang menurut ayah lebih mudah memancarkan aura kecantikanmu” kata ayah membujuk. “Aku akan pikirkan dengan matang” ucap Neyla dalam hati.
Hari ini, ayah Neyla berencana mengundang rekannya sekaligus keluarganya yang bermaksud menjodohkan Neyla dengan Dendi, putra tunggal rekanya itu.
Neyla sudah mengetahui maksud kedatangan rekan ayah bersamaan dengan keluarganya, tak lain perjodohan. Dengan sigap, Neyla mengurung diri dikamar, tanpa memberikan izin kepada satu orang pun untuk masuk ke kamarnya. Ayah yang mengetahui akan hal ini, dengan sigap mendobrak pintu kamar Neyla dan memaksa Neyla untuk menemui Dendi, putra rekannya itu. Namun, paksaan yang membuat Neyla tertekan yakni melespakan jilbabnya dan berdandan ala anak muda jaman sekarang. Dengan gaun ketat  selutut yang berwarna biru muda Neyla tampak tak percaya diri. Satu demi satu tapakan tangga ia turuni dengan lambat. Neyla telah banyak berkorban demi kelangsungan hidup ayahnya. Memang anatara ibu dan ayahnya, Neyla lebih dekat dengan ayahnya. Dan Neyla sangat tak sanggup apabila melihat hidup ayahnya sengsara.
Lama Neyla jalani kehidupanya yang penuh kesuraman tanpa sedikit cahaya bintang yang berminat meneranginya. Sampai suatu hari, dimana sebuah acara pernikahannya akan dilaksanakan, tiba-tiba datanglah sesosok perempuan yang sangat dikenalnya. Ibu. Kata pertama yang mendarat di otaknya. Ibu datang dengan terburu-buru. Neyla tahu maksud kedatangan ibu ke gereja ini. ‘CANCELING’. Ibu Neyla berniat untuk membatalkan acara pernikah Neyla.
Tok.tok.tok… suara sepatu ibu memecah keheningan kala Neyla dan calon suaminya akan mengucapkan ikrar pernikahan mereka.
“Hentikan!..” kata ibu. “Hentikan acara ini, aku tak rela anakku berbelok keyakinan dari apa yang sudah semestinya.” Kata ibu dengan ucapan meninggi. “Dan kau… kau bajingan, jangan ambil anakku…” kata ibu menunjuk ayah Neyla. Tiba-tiba, ibu berlari kearah Neyla dan memberikan secarik kertas. Tak lama kemudian sesosok ibu menghilang hanya dalam satu kedipan mata. Kata demi kata, Neyla mencoba mencermati apa yang seseungguhnya yang ingin ibu sampaikan kepadanya.
“Neyla, ibu tidak ingin kamu sayang ibu. Tapi, ibu hanya ingin kamu sayang dengan keyakinan kita, Islam”
Tetes demi tetes air mata Neyla bergulir jatuh dari kelopak matanya. Walau hanya secarik kertas kusam, Neyla tahu bahwa ibu menginginkan dia pulang bersama ibu.
Tiba-tiba, Neyla berlari keluar dari gereja. Maksud hati ingin menyusul ibunya ke stasiun kereta, namun takdir berkata lain. Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menerobos gang di depan gereja dan ‘dduuuaaaarrrrrr’ tubuh Neyla telempar dan darah tampak berceceran di sisi kanan jalan.
UGD. Neyla terbaring dengan lemah di atas kasur berbalut sprei berwarna biru serasi dengan sapasang bantal bernuansa laut. Hampir setiap hari teman-teman Neyla datang menjenguknya.
1 bulan kemudian
Neyla belum sadarkan diri, sampai suatu ketika dokter mengatakan umur Neyla tidak lama lagi. Mengetahui hal tersebut, ibu Neyla datang menjenguk. Dengan guyuran air mata yang menganak sungai, sang ibu sangat meratapi keadaan Neyla yang tak kunjung sadar. Ratusan doa telah ia layangkan kepada Allah SWT agar keadaan Neyla membaik. Tiba-tiba Neyla terbangun dari komanya. Tak banyak yang ia sampaikan hanya beberapa kata.
“Ibu.. aku takut. Aku takut akan kejadian kemarin Allah benci pada ku. Aku telah melepas jilbabku. Aku telah murtad ibu. Aku murtad ibu. Murtad…”
“Tidak nak. Kamu terpaksa melakukannya demi bajingan itu nak”
“Aku masih takut ibu. Aku tak punya waktu untuk bertobat d…a…n… As…taug…firullah…Allahu A…k…bar……”

Seruan ‘Innalilahi wa inailahi rojiun’ berkumandang di kamar rawat Neyla. Neyla meninggal di dekapan pelukan sang ibu yang menuntunnya untuk menyerukan nama Sang Pencipta. Dan kini, Neyla meninggal dalam keadaan muslim.
Selepas pemakaman Neyla, hujan menumpahkan dirinya dengan begitu derasnya. Sesekali tercium aroma mawar dan melati di sekitar makam Neyla. Apakah itu pertanda, Neyla bahagia dengan kehidupan di alam lainnya ???

Tidak ada komentar:

Posting Komentar