Plukkk…… sebuah bongkahan batu besar dilempar
dengan sengaja ke dalam kolam. Terlihat
seorang Neyla mengenakan baju biru donker serasi dengan jilbabnya duduk
dengan pikiran kosong dibawah pohon rindang didepan kolam ikan sekolah. Ia meratapi
nasibnya, yang kelam tanpa sebuah pelita meneranginya. Terkadang menangis
menahan berjuta luka yang tak henti menyayat kepingan hatinya. Dilema besar
sedang melandanya. Batinya meringis ingin mempertahankan kepercayaan yang menuntunnya
hingga saat ini. Tragedi yang terjadi minggu lalu membuat Neyla enggan pulang
kerumah. Bagaimana bisa, ayahnya memaksa Neyla agar memeluk agamanya, Kristen.
Memang, Neyla tersebut belum mempunyai pengetahuan yang luas tentang agama.
Dalam benaknya, ia mempunyai cita-cita untuk membahagiakan sang ayah yang
terpuruk karena hutang yang melilit usaha ayahnya. “Mungkinkah aku menjadi
murtad dan melepaskan jilbabku”. Namun dilain sisi, Neyla sangat mencintai
ibunya dan agama yang di peluknya, Islam.
Kini,
Neyla tinggal bersama ayahnya pasca perceraiaan dengan ibunya. Neyla terpaksa
tinggal bersama ayahnya karena tidak tega akan kondisi ayahnya yang semakin
parah akibat stress berat. Ayah memulai bicara dengan maksud menghasut Neyla
agar ia mau menuruti apa kemauaan ayah.
“Ayah tidak akan memaksa kamu lagi nak, sekarang
terserah apa kata hatimu. Tapi, ayah akan selalu ada jikalau kamu berubah pikiran, ayah selalu
menunggu. Apakah kamu tidak risih dengan baju serta kain panjang selalu
menutupi aura kecantikanmu. Apakah kamu tidak melihat, kebanyakan perempuan
saat ini lagi trennya baju mini yang menurut ayah lebih mudah memancarkan aura
kecantikanmu” kata ayah membujuk. “Aku akan pikirkan dengan matang” ucap Neyla
dalam hati.
Hari
ini, ayah Neyla berencana mengundang rekannya sekaligus keluarganya yang bermaksud
menjodohkan Neyla dengan Dendi, putra tunggal rekanya itu.
Neyla
sudah mengetahui maksud kedatangan rekan ayah bersamaan dengan keluarganya, tak
lain perjodohan. Dengan sigap, Neyla mengurung diri dikamar, tanpa memberikan
izin kepada satu orang pun untuk masuk ke kamarnya. Ayah yang mengetahui akan
hal ini, dengan sigap mendobrak pintu kamar Neyla dan memaksa Neyla untuk
menemui Dendi, putra rekannya itu. Namun, paksaan yang membuat Neyla tertekan
yakni melespakan jilbabnya dan berdandan ala anak muda jaman sekarang. Dengan
gaun ketat selutut yang berwarna biru
muda Neyla tampak tak percaya diri. Satu demi satu tapakan tangga ia turuni
dengan lambat. Neyla telah banyak berkorban demi kelangsungan hidup ayahnya. Memang
anatara ibu dan ayahnya, Neyla lebih dekat dengan ayahnya. Dan Neyla sangat tak
sanggup apabila melihat hidup ayahnya sengsara.
Lama
Neyla jalani kehidupanya yang penuh kesuraman tanpa sedikit cahaya bintang yang
berminat meneranginya. Sampai suatu hari, dimana sebuah acara pernikahannya
akan dilaksanakan, tiba-tiba datanglah sesosok perempuan yang sangat
dikenalnya. Ibu. Kata pertama yang mendarat di otaknya. Ibu datang dengan terburu-buru.
Neyla tahu maksud kedatangan ibu ke gereja ini. ‘CANCELING’. Ibu Neyla berniat
untuk membatalkan acara pernikah Neyla.
Tok.tok.tok…
suara sepatu ibu memecah keheningan kala Neyla dan calon suaminya akan
mengucapkan ikrar pernikahan mereka.
“Hentikan!..”
kata ibu. “Hentikan acara ini, aku tak rela anakku berbelok keyakinan dari apa
yang sudah semestinya.” Kata ibu dengan ucapan meninggi. “Dan kau… kau
bajingan, jangan ambil anakku…” kata ibu menunjuk ayah Neyla. Tiba-tiba, ibu
berlari kearah Neyla dan memberikan secarik kertas. Tak lama kemudian sesosok
ibu menghilang hanya dalam satu kedipan mata. Kata demi kata, Neyla mencoba
mencermati apa yang seseungguhnya yang ingin ibu sampaikan kepadanya.
“Neyla,
ibu tidak ingin kamu sayang ibu. Tapi, ibu hanya ingin kamu sayang dengan
keyakinan kita, Islam”
Tetes
demi tetes air mata Neyla bergulir jatuh dari kelopak matanya. Walau hanya
secarik kertas kusam, Neyla tahu bahwa ibu menginginkan dia pulang bersama ibu.
Tiba-tiba,
Neyla berlari keluar dari gereja. Maksud hati ingin menyusul ibunya ke stasiun
kereta, namun takdir berkata lain. Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi
menerobos gang di depan gereja dan ‘dduuuaaaarrrrrr’ tubuh Neyla telempar dan
darah tampak berceceran di sisi kanan jalan.
UGD.
Neyla terbaring dengan lemah di atas kasur berbalut sprei berwarna biru serasi
dengan sapasang bantal bernuansa laut. Hampir setiap hari teman-teman Neyla
datang menjenguknya.
1
bulan kemudian
Neyla
belum sadarkan diri, sampai suatu ketika dokter mengatakan umur Neyla tidak
lama lagi. Mengetahui hal tersebut, ibu Neyla datang menjenguk. Dengan guyuran
air mata yang menganak sungai, sang ibu sangat meratapi keadaan Neyla yang tak
kunjung sadar. Ratusan doa telah ia layangkan kepada Allah SWT agar keadaan
Neyla membaik. Tiba-tiba Neyla terbangun dari komanya. Tak banyak yang ia sampaikan
hanya beberapa kata.
“Ibu.. aku takut. Aku takut akan kejadian
kemarin Allah benci pada ku. Aku telah melepas jilbabku. Aku telah murtad ibu.
Aku murtad ibu. Murtad…”
“Tidak nak. Kamu terpaksa melakukannya
demi bajingan itu nak”
“Aku masih takut ibu. Aku tak punya waktu
untuk bertobat d…a…n… As…taug…firullah…Allahu A…k…bar……”
Seruan ‘Innalilahi wa inailahi rojiun’
berkumandang di kamar rawat Neyla. Neyla meninggal di dekapan pelukan sang ibu
yang menuntunnya untuk menyerukan nama Sang Pencipta. Dan kini, Neyla meninggal
dalam keadaan muslim.
Selepas
pemakaman Neyla, hujan menumpahkan dirinya dengan begitu derasnya. Sesekali
tercium aroma mawar dan melati di sekitar makam Neyla. Apakah itu pertanda,
Neyla bahagia dengan kehidupan di alam lainnya ???
Tidak ada komentar:
Posting Komentar