Label

Sabtu, 16 Februari 2013

Mendengar Apa Yang Tak Kamu Ucap



Tuli… itu takdir ku saat ini. Lebih dari 100 orang menghina ku setiap harinya. Mungkin kalian bingung bagaimana bisa aku mengetahuinya, sedangkan telinga ku sama sekali tidak berfungsi…?! Kalian tak perlu tau dari mana aku mendengar. Yah, hanya Tuhan yang tau dan memang, semua pendengaran ku di ciptakan dari-Nya.
Nama ku Gina, mungkin saat ini umurku sama dengan kalian. Mungkin pendidikan ku sama seperti kalian. Mungkin sifat ku sama seperti kalian. Mungkin, mungkin, dan mungkin. Aku tidak bisa mengatakannya secara pasti karena aku tidak terlalu peduli dengan  hidupku. Orangtua ku pun begitu. Mereka sudah tak anggap aku ada. Keadaanku yang tuli seperti ini membuat mereka malu untuk mengakui pada masyarakat kalau aku adalah anak mereka.
Dulu, aku terlahir normal. Bola mata biru yang menjadi daya tarik ku, hidung mancung yang menjadi pesonaku, dan telinga putih kecil yang menjadi kebanggaanku.
Tapi apa… saat menjelang ulang tahun ku yang ke 16 tahun, aku mengalami kecelakaan besar yang mengakibatkan kedua telingaku berhenti berfungsi. Saat kecelakaan yang menimpa ku, banyak teman cowok ku yang datang menjenguk. Tapi, setelah mengetahui kalau aku tuli mereka menghilang. Aku tau sekarang. Mereka berteman dengan ku hanya karena pesonaku. Saat itu aku mulai terpuruk. Aku berpikir melampaui batas. Percobaan bunuh diri sering aku lalukan di sekolah ataupun dirumah.
Setelah jam sekolah usai, semua siswa pulang kerumah. Namun tidak bagiku. Aku telah menyiapkan sebilah pisau kecil yang aku selipkan di tasku sejak dari rumah. Aku mencoba menyayat urat nadi ku hingga putus, namun hal itu gagal. Urat nadiku hanya tersayat setengah. Kebetulan, hal ini di saksikan langsung oleh salah seorang teman lelaki ku yang sangat tidak ku sangka kehadirannya, Bobby. Bobby langsung membawa ku kerumah sakit, dan aku sangat kecewa karena percobaan bunuh diri ku gagal.
 Kala itu, Bobby menjadi teman dekat ku. Dia selalu menemani aku di rumah sakit. Saat keterpurukanku datang, dia selalu menepisnya dengan nasihat-nasihat bijaknya. Perlahan ku coba menepis bayang-bayang cinta yang menghantui. Itu semua karena aku sadar, aku bukan-lah seorang cewek yang sempurna yang bisa di sandingkan dengan cowok sempurna yah sesempurna Bobby. Namun, waktu mengubah segalanya. Bobby dan cinta telah mengubah pemikiranku tentang tuli yang menjadi takdirku.
Saat ini, aku tidak terlalu memikirkan lagi tentang cemoohan orang luar tetang aku, sampai suatu ketika hal yang paling ku benci terjadi…
Sabtu, 5 Januari 2013…
Bobby mengajak ku pergi ketaman sebelah komplek ku. Dengan berjalan kaki kami lalui jalan setapak yang bercorak batu kali yang disusun rapi. Canda, tawa, dan gurawan yang kami rasa. Yah, kalian jangan pikirkan cara kami berkomunikasi, karena kalian tak tahu apa yang sesungguhanya terjadi apabila seseorang tersebut saling mencintai. Di pertengahan jalan, kami bertemu dengan seorang cewek yang mengenal Bobby. Ternyata cewek tersebut ialah mantan kekasihnya Bobby, Jani. Guyonan demi guyonan yang ia lontarkan kepada kami, hingga pada titiknya guyonan dia sangat menyinggung hati ku walau aku tidak mendengarnya secara langsung.
Titik demi titik air mata ku jatuh hingga menganak sungai. Hati ku bagai tersayat pisau cinta yang diasah tajam dengan bumbu kebencian. Aku bagai tak mengenal dunia saat kata TULI yang ia lontarkan ke hati ku secara tiba-tiba.
Aku pun langsung berlari dengan sekuat tenaga meninggalkan taman dan melewati rumah ku. Bobby  yang saat itu tengah membeli es krim langsung berlari mengejar ku. Mungkin, aku telah membuat jejak pelarian dengan air mata yang berceceran di jalanan. Aku masih berlari dengan kencang hingga sampai di suatu persimpangan jalan raya dan duaaarrrrr…… sebuah mobil menabrak Bobby yang ingin menyelamatkan aku. Aku pun langsung membawa Bobby ke rumah sakit terdekat. Sekian jam aku menunggu Bobby sadar hingga datanglah keluarganya dan… cewek itu. Semua keluarga Bobby men-judge aku. Aku pun pulang karena tak tahan dengan tekanan batin yang mereka lontarkan pada diri ku. Lama aku tak berkunjung menjenguk Bobby yang sedang koma di rumahnya. Dan tiba-tiba terdengar kabar kalau Bobby sadar dan ingin mengatakan sesuatu kepada ku.
Aku bergegas kerumah Bobby. Semua orang menunggu kehadiran ku untuk Bobby. Tahukah kalian apa yang Bobby katakana pada ku?? “Gina… maafkan aku, aku tidak bisa menjaga mu lagi. Aku akan pulang ke rumah Tuhan dan tahukah kau, di rumah Tuhan sana aku akan berbicara sekaligus memohon kepada Tuhan agar kamu bisa mendengar lagi. Aku ingin kamu bisa mendengarkan lagu keayangan mu lagi “Especially For You”
Setelah meninggalnya Bobby, Gina dapat mendengar  kembali. Berjuta kali Gina mengucapkan terima kasih kepada arwah Bobby.  Dan keluarga Bobby akhirnya bisa menerima kejadiaan ini dengan lapang dada.
Kebiasaan Gina sesudah pulang sekolah yakni mengunjungi kuburan Bobby dan menyanyikan lagu ‘Especially For You’
Especially For You
I Wanna Let You Know What I Was Going Through
All The Time We Were Apart I Though Of You
You Were In My Heart
My Love Never Changed
I Still Feel The Same

Especially For You

I Wanna Tell You I Was Felling That Way, Too
And If Dreams Were Wings, You Know
I Would Have Flown To You
To Be Where You Are
No Matter How Far
And Now That I’m Next To You

Ku harap kau menyadari ini..!!                                             (REALIZE)
Orang tuli sejatinya tidak bisa mendengar tapi, Tuhan menyayangi semua hambanya. Biarkan Tuhan mengambil pendengaran ku tapi Tuhan adil, Tuhan memberiku Hati. Hati yang akan selalu bergetar apabila hal buruk menggores salah satu saja lapisan hati ku.

Belaian Sang Pencipta


Plukkk…… sebuah bongkahan batu besar dilempar dengan sengaja ke dalam kolam. Terlihat  seorang Neyla mengenakan baju biru donker serasi dengan jilbabnya duduk dengan pikiran kosong dibawah pohon rindang didepan kolam ikan sekolah. Ia meratapi nasibnya, yang kelam tanpa sebuah pelita meneranginya. Terkadang menangis menahan berjuta luka yang tak henti menyayat kepingan hatinya. Dilema besar sedang melandanya. Batinya meringis ingin mempertahankan kepercayaan yang menuntunnya hingga saat ini. Tragedi yang terjadi minggu lalu membuat Neyla enggan pulang kerumah. Bagaimana bisa, ayahnya memaksa Neyla agar memeluk agamanya, Kristen. Memang, Neyla tersebut belum mempunyai pengetahuan yang luas tentang agama. Dalam benaknya, ia mempunyai cita-cita untuk membahagiakan sang ayah yang terpuruk karena hutang yang melilit usaha ayahnya. “Mungkinkah aku menjadi murtad dan melepaskan jilbabku”. Namun dilain sisi, Neyla sangat mencintai ibunya dan agama yang di peluknya, Islam.
Kini, Neyla tinggal bersama ayahnya pasca perceraiaan dengan ibunya. Neyla terpaksa tinggal bersama ayahnya karena tidak tega akan kondisi ayahnya yang semakin parah akibat stress berat. Ayah memulai bicara dengan maksud menghasut Neyla agar ia mau menuruti apa kemauaan ayah.
“Ayah tidak akan memaksa kamu lagi nak, sekarang terserah apa kata hatimu. Tapi, ayah akan selalu ada  jikalau kamu berubah pikiran, ayah selalu menunggu. Apakah kamu tidak risih dengan baju serta kain panjang selalu menutupi aura kecantikanmu. Apakah kamu tidak melihat, kebanyakan perempuan saat ini lagi trennya baju mini yang menurut ayah lebih mudah memancarkan aura kecantikanmu” kata ayah membujuk. “Aku akan pikirkan dengan matang” ucap Neyla dalam hati.
Hari ini, ayah Neyla berencana mengundang rekannya sekaligus keluarganya yang bermaksud menjodohkan Neyla dengan Dendi, putra tunggal rekanya itu.
Neyla sudah mengetahui maksud kedatangan rekan ayah bersamaan dengan keluarganya, tak lain perjodohan. Dengan sigap, Neyla mengurung diri dikamar, tanpa memberikan izin kepada satu orang pun untuk masuk ke kamarnya. Ayah yang mengetahui akan hal ini, dengan sigap mendobrak pintu kamar Neyla dan memaksa Neyla untuk menemui Dendi, putra rekannya itu. Namun, paksaan yang membuat Neyla tertekan yakni melespakan jilbabnya dan berdandan ala anak muda jaman sekarang. Dengan gaun ketat  selutut yang berwarna biru muda Neyla tampak tak percaya diri. Satu demi satu tapakan tangga ia turuni dengan lambat. Neyla telah banyak berkorban demi kelangsungan hidup ayahnya. Memang anatara ibu dan ayahnya, Neyla lebih dekat dengan ayahnya. Dan Neyla sangat tak sanggup apabila melihat hidup ayahnya sengsara.
Lama Neyla jalani kehidupanya yang penuh kesuraman tanpa sedikit cahaya bintang yang berminat meneranginya. Sampai suatu hari, dimana sebuah acara pernikahannya akan dilaksanakan, tiba-tiba datanglah sesosok perempuan yang sangat dikenalnya. Ibu. Kata pertama yang mendarat di otaknya. Ibu datang dengan terburu-buru. Neyla tahu maksud kedatangan ibu ke gereja ini. ‘CANCELING’. Ibu Neyla berniat untuk membatalkan acara pernikah Neyla.
Tok.tok.tok… suara sepatu ibu memecah keheningan kala Neyla dan calon suaminya akan mengucapkan ikrar pernikahan mereka.
“Hentikan!..” kata ibu. “Hentikan acara ini, aku tak rela anakku berbelok keyakinan dari apa yang sudah semestinya.” Kata ibu dengan ucapan meninggi. “Dan kau… kau bajingan, jangan ambil anakku…” kata ibu menunjuk ayah Neyla. Tiba-tiba, ibu berlari kearah Neyla dan memberikan secarik kertas. Tak lama kemudian sesosok ibu menghilang hanya dalam satu kedipan mata. Kata demi kata, Neyla mencoba mencermati apa yang seseungguhnya yang ingin ibu sampaikan kepadanya.
“Neyla, ibu tidak ingin kamu sayang ibu. Tapi, ibu hanya ingin kamu sayang dengan keyakinan kita, Islam”
Tetes demi tetes air mata Neyla bergulir jatuh dari kelopak matanya. Walau hanya secarik kertas kusam, Neyla tahu bahwa ibu menginginkan dia pulang bersama ibu.
Tiba-tiba, Neyla berlari keluar dari gereja. Maksud hati ingin menyusul ibunya ke stasiun kereta, namun takdir berkata lain. Sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menerobos gang di depan gereja dan ‘dduuuaaaarrrrrr’ tubuh Neyla telempar dan darah tampak berceceran di sisi kanan jalan.
UGD. Neyla terbaring dengan lemah di atas kasur berbalut sprei berwarna biru serasi dengan sapasang bantal bernuansa laut. Hampir setiap hari teman-teman Neyla datang menjenguknya.
1 bulan kemudian
Neyla belum sadarkan diri, sampai suatu ketika dokter mengatakan umur Neyla tidak lama lagi. Mengetahui hal tersebut, ibu Neyla datang menjenguk. Dengan guyuran air mata yang menganak sungai, sang ibu sangat meratapi keadaan Neyla yang tak kunjung sadar. Ratusan doa telah ia layangkan kepada Allah SWT agar keadaan Neyla membaik. Tiba-tiba Neyla terbangun dari komanya. Tak banyak yang ia sampaikan hanya beberapa kata.
“Ibu.. aku takut. Aku takut akan kejadian kemarin Allah benci pada ku. Aku telah melepas jilbabku. Aku telah murtad ibu. Aku murtad ibu. Murtad…”
“Tidak nak. Kamu terpaksa melakukannya demi bajingan itu nak”
“Aku masih takut ibu. Aku tak punya waktu untuk bertobat d…a…n… As…taug…firullah…Allahu A…k…bar……”

Seruan ‘Innalilahi wa inailahi rojiun’ berkumandang di kamar rawat Neyla. Neyla meninggal di dekapan pelukan sang ibu yang menuntunnya untuk menyerukan nama Sang Pencipta. Dan kini, Neyla meninggal dalam keadaan muslim.
Selepas pemakaman Neyla, hujan menumpahkan dirinya dengan begitu derasnya. Sesekali tercium aroma mawar dan melati di sekitar makam Neyla. Apakah itu pertanda, Neyla bahagia dengan kehidupan di alam lainnya ???

Tergores Luka Pada Malaikat Hidupku



Ibu. Siapa yang tak tahu dengan kata itu?. Semua orang didunia terlahir dari rahim sosok seorang ibu. Seiring berjalannya waktu, kasih sayangnya tak pernah pudar. Kehangatan jiwanya, lembut belainya, dan keteguhan raganya selalu tercurah setiap waktu. Kala kau butuh semuanya, ibu selalu hadir, walau raganya tak sepenuhnya ikut serta menjaga dan menemani hidupmu. Terkadang, tak semua waktu kita, kita jalani dengan suka cita bersama ibu. Ada waktunya kita membenci ibu. Pertanyaan besar yang berkecamuk saat ini ialah, Kenapa Bisa ??? sebagai anak, patut kah kita membenci seseorang yang telah berjuang melahirkan, menghidupkan, dan mensejahterkan kita ??? jawabannya TIDAK… patut kalian ketahui, seorang ibu hidup hanya untuk anaknya. Mensejahtekan anaknya agar anaknya setara dengan anak-anak orang lain. Banting tulang mencari rupiah demi rupiah. Lebih-lebih tiadanya seorang ayah yang mambantu mencari nafkah.
Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, bulan pun berganti tahun. Akankah kita siap menghadapi segala cobaan yang akan menimpa malaikat hidup kita. Apa yang akan kalian lakukan jikalau ibu kalian tidak seperti ibu yang lainnya *unperfectly*… akankah kalian malu ???  akankah kalian men-judge Tuhan???
Helena. Itu namaku. Dulu, saat aku terlahir ke dunia, aku sangat bahagia. Ayah ibu yang sangat menyayangiku. Canda tawa kami rajut bersama. Namun, setelah aku beranjak dewasa, paku demi paku kehidupan mulai menyerang, sampai suatu ketika balon kehidupan keluarga kami pecah. Ayah mengidap penyakit Stroke setelah sempat mengalami koma kurang lebih se-tahun. Awalnya, ayah di perkirakan sembuh, namun Tuhan berkata lain. Tangan Tuhan lembut menyapa ayah, sehingga ayah tergoda untuk pulang ke sisi-Nya.
Sekarang, tinggalah sosok seorang ibu yang aku punya. Ibu selalu menyeimbangkan perannya sebagai ibu sekaligus ayah yang kini sudah takku punya. Tapi, aku tidak terlalu suka dengan ibuku. Ibu, ibu tidak terlalu bisa diandalkan. Ibuku cacat. Terkadang, aku berpikir kenapa Tuhan begitu kejam denganku. Setelah ayah pulang, ibuku mengalami kecelakaan besar sehingga kakinya lumpuh.
Hal yang palingku takutkan ialah ^berkerja^. Aku tidak terlalu bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Tak bisa mencuci baju, mencuci piring, menyapu, mengepel lebih-lebih memasak pun aku tak bisa. Aku semakin gila. Gila karena kebutuhan ekonomi kami yang cukup tinggi karena harus membayar biaya sekolah yang entah berapa jumlahnya sedangkan aku tak bisa apa-apa. Sampai suatu ketika ibu menghampiriku yang sedang merenung di bawah pohon ceri di belakang rumah dengan membawa secarik Koran di tanganya.  Aku tak terlalu peduli dengannya. Sehingga saat ibu bosan berusaha untuk mengajak ku mengobrol ia malah meninggalkanku pergi, aku pun penasaran dengan isi Koran yang dibawanya. Aku membacanya dengan perlahan. Sekarangku tahu, ibu mengingkanku untuk mengikuti perlombaan menari. Aku sedikit tak pecaya. Kenapa ibu menyuruhku untuk melakukanya. Ibu gila. Aku tidak bisa menari. Kenapa ia menyuruhku demikian.
Aku lekas menghampiri ibu lalu melempar Koran tersebut ke mukanya. Dan aku memakinya. “Ibu, ibu sakit apa, sampai-sampai menyuruhku untuk mengikuti perlombaan yang sedikit tak ku minati itu. Aku tidak bisa menari wahai ibuku yang cacat.” Kataku. Namun, ibu diam seribu bahasa. Yang tampak ialah bulir-bulir bening yang sesaat akan tumpah membanjiri lahan pipinya. “dasar cengeng” kataku sadis meninggalkan ibu.
Setelah kejadian itu, ibu tidak bosan-bosanya membujukku untuk mengikuti perlombaan itu. Terkadang, rasa kasihan pun muncul dengan tiba-tiba menerobos relung hatiku. Sampai suatu ketika perasaan kasihan itu mengalir kepuncak hatiku. Aku tidak bisa menepisnya, dan akhirnya aku mengikuti perlombaan itu. “Bagaimana caranya” pekikku di telinga ibu. Ibu diam tanpa sepatah katapun keluar dari bibir hitamnya. Tak lama kemudian dia beranjak dari tempat duduknya lalu mengambil sebuah kaset di laci lemari dan memberinya kepadaku.
“Kaset tarian daerah” pikirku dalam hati. Yah setidaknya, kaset ini bisa menghilangkan rasa cemasku tentang biaya sekolahku.
2 minggu telah berlalu. Sampai suatu ketika,  seminggu sebelum hari perlombaan akan dimulai kesedihan besar menimpaku. Ibu, malaikat hidupku telah pergi. Sayap yang ia rajut selama hidupnya membuat dia bisa terbang sampai kekediaman Tuhan. Aku frustasi. Aku gila. Perasaan yang bercampur aduk membuat aku berputus asa. Aku ingin pergi menyusulnya, ke rumah Tuhan. Aku ingin tetap bersamanya, bersama ayah dan ibu di langit.
Tepat detik ini, aku membenci Tuhan. Tuhan selalu mengembil segala sesuatu yang aku punya, Ayah  dan ibu. Dan mengapa aku tidak di ikut setakan. Aku  ingin mati. Aku tak sanggup hidup sebatang kara. Menjalani takdir berdua bersama hati, paru-paru, ginjal yang sama sekali tidak bisa diajak berbincang.
Tepat hari ini, hari perlombaan dimulai. Entah apa yang membuatku tak bersemangat hari ini. Aku rindu akan sosok ibu. Sekarang, jika rindu menghantui aku hanya bisa membelai barang-barang mendiang ibu di lemarinya. Bajunya, tasnya, peralatan make-upnya dan lain-lain. Saat aku membuka lemari bu, ku dapatai seonggok kotak kecil berwarna kelabu yang telah usang di sudut lemari. Saatku buka, aku terkejut. Isi yang terdapat didalam kotak itu ialah sepasang bulu mata palsu. Dan, secari kertas Koran. Aku penasaran akan makna benda-benda ini. Perlahanku baca isi Koran tersebut. Aku tersentak kaget. Tanpa disadari, bulir-bulir air mata berjatuhan membasahi pipiku. “Ternyata, ternnyyaattaa iibuu seoorang penari.” Ucapku meninggi. Aku sedikit tak percaya. Tanpa pikir panjang aku beranjak pergi dari kamar lalu pergi keperlombaan.
Dalam benakku, aku tak ingin mengecewakan ibu. Ibu, walau beribu kesalahanku menumpuk di pundak ibu, namun aku yakin ibu telah memaafkanyya. Dan kini, tinggalah aku yang berusaha untuk memuat suatu goresan kecil dengan kebanggan besar di hati ibu. Aku bertekad untuk memenangkan perlombaan itu.
Senang bercampur aduk dengan sedih. Tuhan mendengar do’a ku. Aku pun memenangkan perlombaan menari itu.
Tanpa pikir panjang, akupun berlari kegirangan menuju makam ayah dan ibu. aku akan melaporkan kepadanya kalau aku telah memenangkan perlombaan yang ibu inginkan terjadi pada aku.
“Ibu, aku harap ibu senang dengan apa yang aku terima hari ini. Aku menang ibu. Aku menang. Semoga, ibu tenang di sana ibu. karena aku akan selalu mendo’akan ibu sekarang dan selamanya”
Hari ini, tergoreslah sudah 2 trophy dalam hidupku. Trophy yang menjadi kebanggaan yakni kelegaan akan apa yang telah ku goreskan pada ingatan ibu karena keinginan ibu yang sudah ku lakukan.

Kamis, 10 Januari 2013

単に明らかに

..私は友達が好きでが好き
私は気分が悪い
私が恐れていた彼は私を怒るだろう

は私を助ける私が頼む

Senin, 07 Januari 2013

KOKOLOGI


Teman, tadi siang gue mampir ke perpustakaan sekolah. gue sengaja mampir kesana coz gue kangen nih ama buku-buku yang ada disana. coba gue punya perpustakaan pribadi, bakal gue isi ama buku novel koleksi gue deh !! -aminn-

oh yah, mau tau gak  penemuan buku yang unik yang gue temui disana..

yapz.. temen gue sih tau  !! -KOKOLOGI-

nih gue post-in, apa sih KOKOLOGI itu...

Kokologi adalah sebuah permainan dari Jepang sobat. Tujuannya hanya untuk mengetahui sifat, karakter dan kepribadian kita kok... eits jangan dianggap bener yach.. karena itu semua cuma permainan doank kok.. yah namanya juga permainan ada bener ada juga enggak...

nama Kokologi sendiri gabungan dari 2 bahasa sobat, KOKORO = PIKIRAN (Jepang) sedangkan LOGIA = ILMU (Yunani)

cara memainkannya mudah kok...

1. akan disediakan teks dimana kamu harus berhayal

2. akan disediakannya juga opsi-opsi yang nantinya akan kamu plih salah satunya

3. setelah itu, lihat deh makna yang terkandung dari opsi yang kamu pilih tadi...

EXP. Menjemur baju

mungkin nampak sedikit kuno sekarang. Tapi tidak terlalu lama di masa lalu ketika menjemur baju di luar rumah adalah satu-satunya cara mengeringkan baju. Sekarang kita dilengkapi dengan pengering otomatis dari mesin cuci. Dulu biasanya Anda yang harus memperhatikan cuaca ketika sedang mencuci atau harus menghabiskan waktu mengeringkan celana Jeans yang basah.Anda berada pada jaman ketika segalanya dicuci dengan tangan dan digantung sampai kering. Baju-baju kotor mulai menumpuk. Anda benar-benar harus mencucinya hari ini. Ketika melihat ke angkasa Anda melawan awan gelap pertanda akan hujan. Apa yang terlintas di pikiran?

1.”Oh tidak, kau pasti bercanda! Maksudmu aku harus menunggu sampai besok? Apa yang akan aku pakai?“

2.”Tunggu saja sebentar dan lihat apakah cuaca akan cerah“

3.”Yah, aku rasa tidak harus mencuci hari ini“

4.”Aku akan tetap mencuci biarpun hujan atau tidak“

ANSWERRS

Rahasia dibalik jawaban Anda :

Ketika cuaca buruk yang tak terduga ditambahkan ke dalam tugas-tugas rumah tangga yang membosankan, Anda mendapatkan contoh nyata stress kecil yang dihadapi dalam hidup sehari-hari. Jawaban Anda terhadap cucian menunjukkan ukuran stress yang dirasakan dalam kehidupan.

Pertama

“Oh tidak, kau pasti bercanda! Maksudmu aku harus menunggu sampai besok? Apa yang akan aku pakai?“

Tingkat stress : 80 %. Anda membiarkan segala hal-hal kecil yang buruk mempengaruhi Anda. Sekarang stress telah menumpuk tinggi sehingga gangguan terkecil saja dapat membuat Anda kesal seharian. Sudah saatnya Anda beristirahat dan santai sebelum hal itu mempengaruhi kesehatan.

Kedua

“Tunggu saja sebentar dan lihat apakah cuaca akan cerah“

Tingkat stress : 50 %. Anda tidak dipenuhi stress dalam hidup. Anda tetap dapat tenang ketika segala sesuatu tidak berjalan seperti yang direncanakan. Teruslah berusaha menyelesaikan masalah yang dapat Anda pecahkan ketika muncul. Anda akan baik-baik saja. Ingat, tidak semua stress itu buruk. Biarkan stress dalam hidup memotivasi Anda.

Ketiga

“Yah, aku rasa tidak harus mencuci hari ini“

Tingkat stress : hampir 0 %. Anda tidak membiarkan masalah kecil mengganggu dan tidak punya alasan untuk kuatir. Anda mungkin sudah yakin dengan filosofi tenang. Anda tidak dapat menghentikan hujan dengan menguatirkannya.

Keempat

“Aku akan tetap mencuci biarpun hujan atau tidak“

Tingkat stress : hampir 100 %. Anda merasakan stress yang tinggi dalam hidup sehingga mengabaikan kenyataan dan berusaha mencapai hal yang mustahil. Ketika gagal, Anda akhirnya berhadapan dengan masalah yang lebih besar dan lebih banyak stress dari sebelumnya. Jika meluangkan waktu untuk santai dan memikirkan semuanya, Anda akan melihat berapa banyak usaha yang terbuang. Jangan terlalu cepat dan jangan terlalu tegang. Memakai kaos kaki yang sama sehari lagi tidak akan membunuh Anda.

EXP. Kebijakan pengembalian

Ketika kamu berniat menembak seseorang dan membawakan kado istimewa untuknya, lalu saat kamu mengugkapkan cinta , ia bekata ' Maaf, aku tidak dapat menerimanya'

lalu apa yang anda lakukan dengan kado tesebut setelah patah hati ?

1. menggunakan sendiri

2. memberikan kepada orang lain

3. membuangnya

4.mengirim hadia kepada orang yang menolaknya

ANSWERRS

1. anda pandai menahan hawa nafsu dan menanggapi pesoalan dgn kepala dingin

2. anda berusaha membuat sesuatu yang burk agar selalu telihat lebih baik

3. anda susah lepas dari masa lalu

4. anda tidak mengindahkan seseorang yang lain untuk mendekati anda